Bisnis, Informasi, Tips

Isra Mi’raj Bukan Sekadar Kisah Spiritual, Ini Manual Kepemimpinan yang Terlupakan

Saya sering bertemu dengan pemimpin yang merasa lelah. Target menumpuk, perubahan pasar semakin cepat, tekanan pemangku kepentingan datang dari berbagai arah. Dalam kondisi seperti itu, banyak yang melupakan satu hal mendasar: kepemimpinan bukan hanya soal strategi, tetapi juga soal arah batin dan nilai.

Di titik inilah peristiwa Isra Mi’raj menjadi relevan, bahkan sangat kontekstual, bagi dunia bisnis modern saat ini.

Isra Mi’raj hanyalah sekedar kisah spiritual. Ia adalah narasi kepemimpinan visioner, perjalanan transformasi, dan penguatan fondasi nilai-nilai yang luar biasa. Jika dibaca dengan kacamata bisnis dan manajemen, Isra Mi’raj menyimpan strategi pelajaran yang sangat mendalam.

Perjalanan di Tengah Krisis: Ketika Pemimpin Diuji

Isra Mi’raj terjadi pada fase yang sangat sulit dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamul Huzn, tahun kesedihan. Istri tercinta, Khadijah, wafat. Paman sekaligus pelindung politik, Abu Thalib, juga meninggal dunia. Dakwah mendapat penolakan keras. Secara manusiawi, ini adalah fase kelelahan emosional dan tekanan ekstrem.

Dalam dunia bisnis, fase ini sangat familiar. Perusahaan menghadapi penurunan kinerja, kehilangan figur kunci, konflik internal, atau kegagalan ekspansi. Banyak organisasi runtuh bukan karena kekurangan modal, tetapi karena pemimpinnya kehilangan arah dan daya tahan mental.

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa di saat krisis paling gelap, justru dibutuhkan lompatan visi paling tinggi. Allah tidak menurunkan Nabi dalam kondisi nyaman, namun justru mengangkatnya ketika beban terasa paling berat.

Bagi para pemimpin bisnis, pesan ini jelas:
krisis bukan sinyal untuk berhenti, tetapi momentum untuk naik kelas.

Isra: Manajemen Perjalanan yang Terukur

Perjalanan Isra, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dapat dipahami sebagai simbol perjalanan horizontal, dunia nyata, penuh tantangan fisik dan sosial. Dalam konteks bisnis, ini adalah tahapan operasional: waktu pengelolaan, pasar, proses, dan sumber daya.

Tidak ada organisasi yang bisa langsung “naik ke langit” tanpa menyelesaikan urusan di bumi. Banyak bisnis yang gagal karena tidak mencapai visi besar, tetapi gagal pada fondasi operasional: tata kelola, budaya kerja, dan sistem.

Isra mengajarkan pentingnya proses sebelum transformasi besar. Dari banyak sesi konsultasi yang sering saya lakukan dengan klien bahwa tanpa visi hanyalah mimpi. Nabi Muhammad SAW “melalui” perjalanan itu, bukan melewatinya secara instan, memberi pesan bahwa setiap hasil yang baik selalu membutuhkan peroses yang matang.

Mi’raj: Kepemimpinan Visioner dan Keberanian Membawa Amanah

Mi’raj adalah perjalanan vertikal, naik menembus lapisan langit. Inilah simbol visi, nilai, dan tujuan jangka panjang. Dalam bisnis, Mi’raj adalah fase di mana pemimpin tidak lagi sekadar mengelola hari ini, tetapi menentukan masa depan.

Yang menarik, hasil utama Mi’raj bukan strategi perang, bukan peta ekonomi, melainkan perintah shalat. Ini sering dianggap ritual semata, padahal sholat bukan hanya ritual semata, shalat bisa diartikan sebuah bagi simbol kedisiplinan, konsistensi, dan pengelolaan waktu.

Shalat lima waktu mengajarkan bahwa:

• Kesuksesan membutuhkan ritme yang konsisten
• Evaluasi diri harus dilakukan secara berkala
• Koneksi dengan nilai inti tidak boleh terputus

Organisasi yang sehat selalu punya “waktu shalat”-nya sendiri: rapat evaluasi, refleksi budaya, dan penyelarasan visi. Tanpa itu, perusahaan mudah kehilangan ruh dan hanya bergerak secara mekanis.

Negosiasi Target: Fleksibilitas Tanpa Kehilangan Prinsip

Awalnya, shalat diwajibkan 50 waktu. Melalui dialog dan pengurangan bertahap, ditetapkan menjadi lima waktu dengan pahala tetap 50. Ini pelajaran emas dalam dunia kepemimpinan dan manajemen.

Bahwa pemimpin hebat tahu kapan harus tegas dan kapan harus adaptif. Target boleh disesuaikan, strategi boleh berubah, tetapi nilai inti tidak boleh dikompromikan.

Nabi Muhammad SAW menunjukkan kemampuan negosiasi yang matang: mendengarkan masukan, mempertimbangkan kapasitas umat, tanpa menurunkan esensi ibadah. Dalam bisnis, ini mirip dengan menyesuaikan KPI agar realistis, tanpa mengorbankan integritas dan kualitas.

Kembali ke Bumi: Tantangan Implementasi

Setelah Mi’raj, Nabi kembali ke bumi dan menghadapi cemoohan, keraguan, bahkan penolakan. Tidak semua orang siap menerima visi besar. Ini realitas yang juga dihadapi para pemimpin bisnis.

Setiap transformasi organisasi pasti memunculkan resistensi. Visi yang terlalu maju sering dianggap tidak masuk akal. Namun Isra Mi’raj mengajarkan satu hal penting: visi yang benar tidak selalu langsung diterima, tetapi harus diperjuangkan dengan konsistensi dan keteladanan.

Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkan peristiwa itu tanpa ragu. Dalam organisasi, pemimpin juga membutuhkan champion, orang-orang yang percaya pada visi dan menjadi penggerak perubahan.

Isra Mi’raj dan Kepemimpinan Berbasis Nilai

Dunia bisnis hari ini bergerak cepat, tetapi sering kehilangan arah. Banyak perusahaan tumbuh besar namun rapuh, karena kepemimpinannya miskin nilai. Isra Mi’raj mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati selalu berakar pada kejujuran, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual.

Saya meyakini bahwa perusahaan yang berkelanjutan bukan hanya yang paling inovatif, tetapi yang paling berintegritas. Isra Mi’raj bukan cerita masa lalu, melainkan manual kepemimpinan lintas zaman.

Ia mengajarkan bahwa sebelum naik lebih tinggi, pemimpin harus kuat di dasar. Sebelum memimpin orang lain, ia harus tertib memimpin dirinya sendiri. Dan sebelum mengejar dunia, ia harus jelas tentang nilai yang ia perjuangkan.

Naiklah, Tapi Jangan Lupa Turun dan Membumi

Isra Mi’raj adalah perjalanan naik, tetapi juga perjalanan kembali. Dalam dunia bisnis, ini berarti satu hal: visi setinggi apa pun harus berakhir pada kemaslahatan. Pemimpin yang baik bukan hanya mampu bermimpi besar, namun mampu menerjemahkan mimpi itu menjadi tindakan yang membumi, adil, dan berdampak.

Oleh karena itu, pada momentum Isra Mi’raj ini, barangkali yang perlu kita tanyakan tidak hanya sejauh mana bisnis kita berkembang, tetapi setinggi apa nilai yang kita bawa dalam setiap keputusan. Karena sejatinya, keberhasilan suatu bisnis bukan hanya soal keuntungan, tetapi tentang keberkahan bisnis yang kita jalani.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *