Ramadhan selalu datang seperti jeda. Ia tidak sekedar hadir sebagai bulan dalam kalender hijriah, melainkan sebagai ruang hening yang menyela riuhnya dunia. Di tengah target kerja, laporan keuangan, grafik penjualan, dan notifikasi tanpa henti, Ramadan seperti menampar bahu kita pelan-pelan, lalu bertanya: kamu masih ingat untuk apa semua ini dijalani?
Dalam dunia yang bergerak serba cepat, kita terbiasa mengukur semuanya dengan angka. Produktivitas dihitung dari berapa banyak yang dihasilkan. Kesuksesan diukur dari omzet. Prestasi ditakar dari pencapaian materi. Bahkan nilai diri pun sering terjebak dalam logika yang sama: seberapa “menguntungkan” kita di mata sistem.
Tanpa sadar, kita hidup dalam budaya target. Target bulanan, target tahunan, target pertumbuhan, target keuntungan. Kita berlari, sering kali tanpa sempat bertanya apakah arah lari itu benar.
Di awal Ramadhan memainkan peran yang berbeda. Ia bukan sekadar ritual ibadah, melainkan momentum reorientasi, mengatur ulang kompas hidup dari sekadar keuntungan menuju kemanusiaan.
Ketika Dunia Terlalu Sibuk Mengejar Angka
Logika untung sebenarnya tidak salah. Bisnis butuh laba, organisasi butuh keinginan, individu butuh penghasilan. Namun masalah muncul ketika profit menjadi satu-satunya tujuan.
Saat itu terjadi, manusia perlahan berubah menjadi angka. Karyawan dipandang sebagai biaya operasional. Pelanggan diperlakukan sebagai objek transaksi. Relasi diukur berdasarkan manfaat. Waktu istirahat dianggap kemalasan. Empati dinilai tidak produktif. Segalanya dihitung, tapi perasaan tak pernah diperhitungkan.
Kita mengenal banyak orang yang sukses secara materi, tetapi rapuh secara batin. Perusahaan bertumbuh pesat, tetapi karyawannya kelelahan. Target tercapai, tetapi maknanya hilang.
Ada sesuatu yang keliru ketika hidup terasa penuh, namun rasanya kosong. Ramadan hadir untuk mengungkap kekeliruan itu.
Puasa: Latihan Mengurangi, Bukan Menambah
Sepanjang tahun kita mengajar menambah: menambah penghasilan, menambah aset, menambah prestasi. Ramadhan justru mengajarkan sebaliknya: mengurangi.
Mengurangi makan.
Mengurangi keinginan.
Mengurangi ego.
Mengurangi keserakahan.
Secara spiritual, puasa adalah latihan pengendalian diri. Tapi jika dilihat lebih dalam, ia juga mengkritik halus terhadap konsumsi yang berlebihan.
Saat kita lapar atau haus, kita sadar merasakan orang-orang yang kelaparan atau kehausan karena kekurangan, sehingga kita bisa menghindarkan diri dari keserakahan dan memilih untuk lebih banyak bersyukur. Saat menahan amarah, kita menyadari betapa seringnya ego memimpin hidup kita.
Puasa memanusiakan kita kembali. Ia mengingatkan bahwa manusia bukanlah mesin produksi. Manusiamakhluk yang punya batas. Dan batas itu perlu dihormati.
Menggeser Fokus: Dari “Berapa Banyak” ke “Seberapa Bermakna”
Ramadhan mengubah cara kita memandang nilai. Di luar Ramadhan, pertanyaan yang sering muncul adalah: berapa banyak yang kamu dapatkan?
Di bulan ini, pertanyaannya berubah: seberapa banyak yang kamu berikan?
Sedekah, zakat, berbagi takjil, memberi makan orang lain, membantu tetangga, semuanya mendorong kita keluar dari diri sendiri. Kita diajak melihat bahwa nilai hidup bukan hanya soal akumulasi, tetapi kontribusi.
Paradigma ini sangat berbeda dengan logika keuntungan.
Logika keuntungan berkata: simpan sebanyak mungkin.
Ramadhan berkata: bagikan sebanyak mungkin.
Logika keuntungan berkata: utamakan diri.
Ramadhan berkata: utamakan sesama.
Dari orientasi kita pelan-pelan bergeser. Bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kepemilikan, melainkan dari kebermaknaan. Dan sering kali, makna justru muncul ketika kita hadir bagi orang lain.
Ramadhan dan Dunia Kerja yang Lebih Manusiawi
Jika nilai-nilai Ramadhan benar-benar kita resapi, seharusnya ia tidak berhenti di sajadah atau meja makan saat berbuka. Ia perlu menembus ruang-ruang kerja, ruang rapat, bahkan ruang keputusan strategis.
Bayangkan jika semangat Ramadhan diterapkan dalam dunia profesional.
Pemimpin tidak hanya mengejar target, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat.
Perusahaan tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga dampak sosialnya.
Manajer tidak hanya menilai kinerja, tetapi juga memahami kondisi manusia di balik angka itu.
Jam kerja lebih fleksibel. Empati lebih diutamakan. Budaya saling membantu lebih kuat.
Bukan berarti kita meninggalkan keuntungan. Tapi keuntungan tidak lagi menjadi raja tunggal. Ia berjalan berdampingan dengan nilai kemanusiaan. Karena pada akhirnya, organisasi dibangun oleh manusia, bukan oleh spreadsheet. Dan manusia tidak bisa diperlakukan seperti mesin.
Jeda untuk Menemukan Ulang Diri Sendiri
Salah satu kekuatan Ramadhan adalah ritmenya yang melambat.
Sahur yang sunyi.
Siang yang lebih tenang.
Malam yang berisi refleksi dan doa.
Ritme ini memberi kita sesuatu yang jarang kita miliki: waktu untuk merenung.
Kapan terakhir kali kita benar-benar bertanya pada diri sendiri, “untuk apa semua ini?”
Untuk apa lembur tanpa henti?
Untuk ambisi apa yang tak pernah selesai?
Untuk apa mengejar pengakuan yang cepat hilang?
Ramadhan memberi ruang untuk pertanyaan-pertanyaan itu.
Dan sering kali, penjelasan sederhana: kita hanya ingin hidup yang bermakna. Kita ingin merasa cukup. Kita ingin dekat dengan orang-orang yang kita cintai. Kita ingin hati yang tenang. Dan semua itu tidak bisa dibeli dengan keuntungan sebesar apa pun.
Setelah Ramadhan, Apa yang Tersisa?
Tantangan terbesar justru datang setelah Ramadan usai. Apakah nilai-nilai itu ikut pergi bersama bulan suci? Atau ia menetap sebagai cara memandang baru?
Reorientasi yang sejati bukanlah perubahan sesaat. Ia harus melanjutkan. Mungkin kita tidak bisa mengubah sistem besar sekaligus. Tapi kita bisa memulai dari hal kecil.
Bekerja dengan lebih empatik.
Memimpin dengan lebih manusiawi.
Berbisnis dengan lebih beretika.
Menghargai waktu istirahat.
Memberi ruang untuk peduli.
Hal-hal sederhana, tetapi berdampak besar. Karena dunia ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar atau perusahaan besar. Dunia ini kekurangan manusia yang mampu memanusiakan manusia.
Dan Ramadhan mengajarkan kita satu pelajaran penting: sehebat apa pun pencapaian kita, jika kita kehilangan empati, kita kehilangan esensi menjadi manusia.
Pada akhirnya, reorientasi ini bukan sekadar wacana spiritual, namun harus terwujud dalam praktik nyata, dalam cara organisasi yang dikelola, keputusan bisnis diambil, dan karyawan diperlakukan secara manusiawi. Semangat itulah yang juga mulai dianut oleh berbagai lembaga profesional yang percaya bahwa keberhasilan usaha tidak cukup diukur dari laba, tetapi dari dampak dan kebermanfaatannya. Salah satunya adalah MAB Consulting, yang dikenal sebagai salah satu konsultan bisnis terbaik di Jawa Timur, khususnya Surabaya.
Dengan pendekatan yang menyeimbangkan kinerja, sistem, dan nilai-nilai kemanusiaan, mereka mendorong perusahaan untuk bertumbuh tanpa kehilangan empati, membantu klien tidak hanya menjadi lebih untung, tetapi juga bertanggung jawab, lebih beretika, dan lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, bisnis terbaik bukanlah yang sekadar besar, melainkan yang membawa kebaikan bagi banyak orang.