Bisnis

Stay Relevant, Stay Ahead: Belajar, Memimpin, dan Membangun Sistem untuk Bertumbuh

Ada fase dalam perjalanan profesional ketika seseorang mulai menyadari bahwa pengalaman saja tidak cukup.

Bertahun-tahun bekerja, membangun bisnis, menghadapi berbagai persoalan klien, mengambil keputusan, dan mengejar target memang membentuk kemampuan. Namun, dunia tidak pernah berhenti berubah. Teknologi berkembang, regulasi bergerak, kebutuhan bisnis berubah, dan cara kerja organisasi pun terus mengalami transformasi.

Kesadaran itulah yang kemudian membawa Farnanda Kurniawan kembali ke ruang akademik.

Sebagai Founder & CEO MAB Consulting, Farnanda telah cukup lama berada di dunia profesional. Namun, ia memilih kembali menempuh pendidikan Magister Manajemen di Universitas Kristen Petra. Keputusan tersebut bukan sekadar untuk menambah gelar akademik. Ada kebutuhan yang lebih mendasar: memperbarui perspektif, menguji pengalaman dengan teori, sekaligus memahami persoalan bisnis secara lebih strategis.

Hasilnya pun bukan sekadar pencapaian akademik. Farnanda menyelesaikan pendidikannya dengan IPK 3,96 dan tugas akhir bernilai A.

Namun, angka tersebut bukanlah bagian yang paling menarik dari perjalanan itu.

Yang lebih menarik adalah bagaimana pengalaman profesional kemudian dibawa ke ruang akademik dan diubah menjadi sebuah gagasan yang berangkat dari persoalan nyata.

Ketika Pengalaman Menjadi Bahan Belajar

Tugas akhir Farnanda membahas rencana integrasi sistem informasi manajemen dan sistem informasi akuntansi pada alur pendapatan rumah sakit.

Topik tersebut tidak muncul dari ruang kosong. Dalam praktik konsultasi, ia menemukan permasalahan yang berulang pada sejumlah klien rumah sakit, baik swasta maupun pemerintah/BLUD. Sistem sebenarnya telah memiliki data transaksi, namun ketika data tersebut harus masuk ke proses akuntansi, masih terdapat jeda yang membutuhkan rekap dan pengolahan manual, termasuk menggunakan Excel.

Dari situlah muncul sebuah pertanyaan sederhana tetapi penting: jika data sudah tersedia, mengapa masih harus diproses berulang kali secara manual?

Pertanyaan tersebut kemudian berkembang menjadi penelitian.

Farnanda merancang prototype Revenue Cycle Integration yang berfungsi sebagai penghubung antara proses operasional di sisi front-end dan sistem akuntansi di sisi back-end. Melalui mekanisme pemetaan dan otomasi, transaksi pelayanan dapat diterjemahkan menjadi informasi dan pencatatan akuntansi secara lebih terstruktur.

Bagi Farnanda, nilai dari penelitian tersebut bukan hanya terletak pada prototipe yang dihasilkan.

Ada pelajaran yang lebih besar: masalah bisnis sering kali bukan karena tidak adanya teknologi, tetapi karena sistem yang ada belum terhubung dengan baik.

Pemikiran tersebut kemudian menjadi relevan tidak hanya dalam bidang teknologi dan akuntansi, tetapi juga dalam cara melihat organisasi.

Literasi yang Lebih dari Sekadar Membaca

Di titik ini, pendidikan dan literasi bertemu.

Literasi sering kali dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, bagi seorang profesional, literasi juga berarti kemampuan memahami konteks, membaca perubahan, mengolah informasi, dan menerjemahkan pengetahuan menjadi keputusan.

Seorang pemimpin membutuhkan literasi bisnis.

Ia membutuhkan literasi teknologi untuk memahami perubahan.

Ia membutuhkan literasi data untuk membaca kondisi organisasi.

Ia membutuhkan literasi keuangan untuk memahami kesehatan perusahaan.

Dan yang tidak kalah pentingnya, ia membutuhkan literasi manusia untuk memahami orang-orang yang berada di dalam organisasi.

Oleh karena itu, belajar tidak berhenti ketika seseorang memperoleh ijazah.

Farnanda sendiri terus memperbarui kompetensinya melalui berbagai pendidikan dan sertifikasi profesional, mulai dari Brevet A/B/C hingga Certified Management Accounting dan Certified Master Trainer.

Baginya, pengalaman memang penting. Tetapi pengalaman tanpa pembaruan pengetahuan dapat membuat seseorang terjebak dalam cara lama.

Di dalamnya motto “Tetap Relevan, Tetap Terdepan” menemukan maknanya.

Tetap relevan berarti siap belajar kembali. Tetap berada di depan berarti berani beradaptasi sebelum perubahan memaksa kita untuk berubah.

Kepemimpinan Dimulai dari Kesadaran atas Keterbatasan Diri

Perjalanan tersebut juga membawa Farnanda pada pemahaman mengenai kepemimpinan.

Ia menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang berorientasi pada tujuan, adaptif, dan gigih. Ketika memiliki target, ia terbiasa mencari berbagai alternatif sampai menemukan jalan untuk mencapainya. Namun, karakter tersebut juga pernah membuatnya terlalu fokus pada target dan merasa harus menangani terlalu banyak hal secara langsung.

Dari sana lahir sebuah pembelajaran penting:

Menjadi pemimpin bukan berarti mengerjakan semuanya sendiri.

Justru semakin besar organisasi, semakin penting kemampuan seorang pemimpin untuk membangun tim, melakukan delegasi, dan menciptakan sistem.

Kepemimpinan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa kuat seseorang bekerja.

Kepemimpinan adalah tentang bagaimana seseorang membuat orang lain mampu bekerja, berkembang, dan mengambil tanggung jawab.

Pertemuan kepemimpinan dengan sistem manajemen.

Sistem Membuat Pertumbuhan Tidak Bergantung pada Satu Orang

Sebuah organisasi yang terlalu bergantung pada satu individu akan sulit berkembang secara berkelanjutan.

Ketika pemimpin tidak hadir, keputusan berhenti. Ketika satu orang tidak bekerja, proses ikut terganggu. Ketika pengetahuan hanya dimiliki oleh individu tertentu, organisasi kehilangan kemampuan untuk mereplikasi keberhasilan.

Oleh karena itu, organisasi membutuhkan sistem.

Sistem bukan untuk menggantikan manusia. Sebaliknya, sistem yang dibangun agar manusia dapat bekerja dengan lebih terarah, konsisten, dan efektif.

Pengalaman Farnanda dalam mengembangkan sistem integrasi akuntansi menampilkan cara berpikir tersebut: mempertemukan proses, data, teknologi, dan kebutuhan bisnis dalam satu alur yang terstruktur.

Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam organisasi pengembangan.

Orang-orang menggerakkan organisasi, tetapi sistem yang membuat gerakan tersebut dapat bertahan.

Seorang pemimpin mungkin mampu membawa timnya mencapai target sekali.

Tetapi pemimpin yang membangun sistem mampu menciptakan organisasi yang dapat mencapai target secara konsisten.

Dari Pertumbuhan Bisnis Menuju Pertumbuhan Manusia

Oleh karena itu, orientasi Farnanda ke depan tidak hanya berbicara tentang membangun bisnis yang lebih besar.

Ia ingin membangun sesuatu yang memiliki nilai dan mampu bertahan dalam jangka panjang. Kompetensi di bidang manajemen strategis, akuntansi, sistem akuntansi, penasihat bisnis, dan integrasi teknologi terus dikembangkan, tetapi pada saat yang sama ada perhatian yang semakin besar terhadap pengembangan organisasi dan pengembangan sumber daya manusia.

Dalam perspektif seorang konsultan mulai bergerak dari sekadar membantu perusahaan menyelesaikan persoalan menuju pertanyaan yang lebih besar:

Bagaimana membuat organisasi mampu menyelesaikan masalahnya sendiri di masa depan?

Jawabannya bukan hanya teknologi.

Bukan hanya strategi.

Bukan hanya SOP.

Tetapi kombinasi antara manusia, kepemimpinan, budaya, kompetensi, dan sistem.

Farnanda bahkan mulai mengembangkan kerangka kerja untuk pengembangan organisasi dan pengembangan sumber daya manusia melalui empat nilai: IFRS, Integrity, Fun, Responsibility, Sustainability.

Empat nilai tersebut menjadi landasan gagasan tentang organisasi yang tidak hanya mengejar kinerja, tetapi juga membangun manusia dan keinginan.

Personal Branding yang Dibangun dari Karya

Perjalanan ini juga menunjukkan bahwa personal branding yang kuat tidak lahir dari sekedar bagaimana seseorang ingin dikenal.

Personal branding lahir dari apa yang terus-menerus dilakukan, dibangun, dan dipasarkan.

Jika ingin dikenal sebagai pembelajar, maka harus ada proses belajar yang nyata.

Jika ingin dikenal sebagai pemimpin, maka harus ada tim yang berkembang.

Jika ingin dikenal sebagai konsultan, maka harus ada persoalan nyata yang berhasil dibantu penyelesaiannya.

Jika ingin dikenal sebagai pemimpin pemikiran, maka harus ada gagasan yang terus diumumkan.

Dan jika ingin membangun reputasi di bidang sistem manajemen, maka harus ada sistem yang benar-benar memberikan dampak.

Oleh karena itu, pendidikan, literasi, kepemimpinan, dan sistem manajemen bukanlah empat hal yang berdiri sendiri.

Semuanya saling terhubung.

Pendidikan membentuk cara berpikir.

Literasi menjaga kita tetap relevan.

Kepemimpinan memberi arah.

Sistem manajemen membuat arah tersebut dapat dijalankan.

Dan pembangunan manusia memastikan pertumbuhan tidak berhenti pada satu generasi.

Gelar Adalah Awal, Bukan Akhir

Ada satu pesan yang terasa penting dari perjalanan Farnanda kembali ke bangku kuliah: jangan menjalani pendidikan hanya untuk mencapai kelulusan.

Nilai dan IPK memang penting. Tetapi pendidikan seharusnya membangun cara berpikir, karakter, hubungan, dan kompetensi. Bahkan pengalaman di luar kelas, organisasi, networking, diskusi, dan persoalan nyata merupakan bagian dari proses belajar.

Sebab, gelar mungkin membantu seseorang membuka pintu pertama.

Tetapi kompetensi, karakter, kemampuan beradaptasi, dan keinginan untuk terus belajar akan menentukan sejauh mana seseorang dapat melangkah.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari Stay Relevant, Stay Ahead.

Bukan menjadi tentang yang paling cepat.

Bukan pula tentang selalu menjadi yang paling tahu.

Tetapi tentang kesediaan untuk terus belajar, berani beradaptasi, membangun sistem, mengembangkan manusia, dan meninggalkan sesuatu yang dapat terus bertumbuh bahkan setelah kita tidak lagi berada di dalamnya.

Sebab, keberhasilan seorang profesional bukan hanya tentang seberapa besar dirinya berkembang, namun seberapa besar pertumbuhan itu dapat ditularkan kepada orang lain dan diubah menjadi sesuatu yang berkelanjutan.

 

Baca juga:

Tentang Kami: MAB Advisory

Tentang Kami: MAB Consulting

Ketika Accounting Bukan Lagi Sekedar Angka: Mengapa Saya Membangun MAB Consulting