Blog

3 Kesalahan UMKM yang Membuat AI Tak Pernah Menghasilkan Cuan

Transformasi digital telah mengubah cara dunia usaha beroperasi. Jika beberapa tahun lalu digitalisasi identik dengan memiliki media sosial, bergabung di marketplace, atau menggunakan aplikasi kasir, kini lanskap bisnis memasuki fase yang jauh lebih maju. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah mengubah cara perusahaan bekerja, mengambil keputusan, melayani pelanggan, hingga menciptakan inovasi baru. Sayangnya, di tengah perkembangan tersebut, sebagian besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia masih berada di tahap awal adopsi teknologi.

Padahal, data menunjukkan masyarakat Indonesia sebenarnya sangat terbuka terhadap AI. Laporan PwC Workforce Hopes and Fears 2025 mencatat sebanyak 69 persen masyarakat Indonesia telah menggunakan AI dalam satu tahun terakhir, melampaui rata-rata global yang berada di angka 54 persen. Angka tersebut memperlihatkan bahwa AI bukan lagi teknologi eksklusif yang hanya digunakan perusahaan besar atau kalangan profesional.

Namun ironi justru terlihat pada sektor UMKM. Kementerian Ekonomi Kreatif mengungkapkan bahwa lebih dari 90 persen UMKM belum memanfaatkan AI secara sistematis dalam menjalankan bisnisnya. Kami melihat kondisi ini bukan semata-mata disebabkan oleh keterbatasan modal atau akses terhadap teknologi. Persoalan yang sesungguhnya jauh lebih mendasar, yakni bagaimana pelaku usaha memandang AI sebagai sesuatu yang rumit, mahal, dan sulit diterapkan dalam aktivitas bisnis sehari-hari.

Pandangan tersebut perlu segera diubah. Sebab, di era persaingan yang semakin kompetitif, AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan instrumen strategis untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing usaha.

Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia sangat besar. Sektor ini menyumbang lebih dari 61 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Artinya, setiap peningkatan produktivitas yang terjadi pada UMKM akan memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Sayangnya, masih banyak pelaku usaha yang menganggap penggunaan AI membutuhkan investasi besar, tenaga ahli teknologi, bahkan perubahan total terhadap model bisnis mereka. Padahal, kondisi di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.

Saat ini tersedia berbagai platform AI yang dapat digunakan secara gratis maupun melalui skema freemium. ChatGPT mampu membantu menyusun konsep promosi, membuat deskripsi produk, menjawab pertanyaan pelanggan, hingga menyusun ide konten pemasaran. Canva AI memudahkan pelaku usaha membuat desain promosi profesional tanpa harus menguasai perangkat lunak desain grafis. Berbagai aplikasi lain juga telah menyediakan fitur otomatisasi yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan bisnis.

Dengan kata lain, hambatan biaya tidak lagi menjadi alasan utama. Yang menjadi tantangan justru adalah kesiapan sumber daya manusia dalam mengadopsi teknologi tersebut.

Dari berbagai proses pendampingan bisnis yang kami amati, terdapat tiga hambatan utama yang menyebabkan UMKM belum optimal memanfaatkan AI.

Hambatan pertama adalah persepsi bahwa AI terlalu kompleks. Banyak pelaku usaha merasa harus memahami seluruh konsep AI sebelum dapat menggunakannya. Cara berpikir seperti ini justru membuat mereka tidak pernah benar-benar memulai.

Padahal implementasi AI dapat dilakukan secara bertahap. Tidak perlu langsung mengintegrasikan AI ke seluruh proses bisnis. Mulailah dari satu kebutuhan yang paling sering menghabiskan waktu.

Sebagai contoh, seorang pemilik usaha kuliner dapat menggunakan ChatGPT untuk membuat kalender konten media sosial selama satu bulan. Pelaku usaha fesyen dapat memanfaatkan AI untuk menghasilkan deskripsi produk yang lebih menarik. Pemilik toko daring dapat menggunakan AI untuk membuat balasan cepat terhadap pertanyaan pelanggan.

Langkah-langkah sederhana tersebut sudah mampu menghemat waktu kerja hingga beberapa jam setiap minggunya. Efisiensi kecil inilah yang perlahan akan membentuk budaya kerja yang lebih produktif.

Hambatan kedua adalah rendahnya literasi digital. Data yang dipaparkan dalam CNBC Indonesia Tech & Telco Forum 2026 menunjukkan bahwa kurang dari 30 persen masyarakat Indonesia memiliki keterampilan digital tingkat lanjut.

Akibatnya, banyak pelaku usaha hanya memanfaatkan internet sebagai media promosi tanpa memahami bahwa teknologi dapat membantu hampir seluruh proses operasional bisnis. AI sebenarnya mampu mendukung penyusunan laporan penjualan, analisis perilaku pelanggan, penyusunan proposal kerja sama, hingga membantu menyusun strategi pemasaran yang lebih efektif.

Beruntungnya, berbagai program pelatihan telah disediakan oleh pemerintah maupun sektor swasta. Program KreasiAI dari Kementerian Ekonomi Kreatif maupun Google Gapura Digital telah membuka akses pembelajaran bagi jutaan pelaku UMKM di Indonesia.

Kesempatan belajar sudah tersedia. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemauan untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Dalam dunia bisnis modern, kemampuan belajar menjadi aset yang sama berharganya dengan modal usaha.

Hambatan ketiga yang menurut kami justru paling krusial adalah minimnya pendampingan.

Banyak pelaku UMKM mengikuti pelatihan AI selama satu atau dua hari. Setelah pelatihan selesai, mereka kembali menjalankan usaha seperti biasa. Ilmu yang diperoleh perlahan terlupakan karena tidak pernah dipraktikkan secara konsisten.

Inilah kelemahan terbesar dari pendekatan pelatihan yang hanya berorientasi pada transfer pengetahuan tanpa disertai proses pendampingan.

Transformasi bisnis tidak terjadi karena seseorang mengetahui sebuah teknologi. Transformasi terjadi ketika teknologi tersebut benar-benar diterapkan, dievaluasi, lalu disempurnakan secara berkelanjutan.

Riset mengenai adopsi teknologi pada usaha kecil menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis komunitas maupun pendampingan memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dibanding pembelajaran mandiri. Ketika pelaku usaha memiliki mentor atau komunitas diskusi, mereka lebih mudah menemukan solusi atas berbagai kendala yang dihadapi selama proses implementasi.

Pendampingan juga membantu pelaku usaha memilih teknologi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis. Tidak semua AI harus digunakan. Yang terpenting adalah memilih solusi yang memberikan dampak paling besar terhadap efisiensi operasional maupun peningkatan pendapatan.

Dalam setiap sesi konsultasi dengan mitra, kami sering mengingatkan bahwa tujuan utama mengadopsi AI bukanlah agar bisnis terlihat modern, melainkan agar bisnis menjadi lebih produktif, lebih efisien, dan mampu memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik.

Ke depan, persaingan bisnis tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki modal terbesar, melainkan siapa yang mampu belajar dan beradaptasi lebih cepat. AI akan menjadi pembeda yang signifikan antara pelaku usaha yang hanya bertahan dengan mereka yang mampu berkembang secara berkelanjutan.

Pemerintah sendiri menargetkan 30 juta UMKM terdigitalisasi. Target tersebut tidak akan tercapai apabila digitalisasi hanya dimaknai sebagai kehadiran di media sosial atau marketplace. Digitalisasi harus berkembang menjadi kemampuan memanfaatkan teknologi untuk mendukung pengambilan keputusan, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah bagi pelanggan.

Karena itu, langkah terbaik bagi pelaku usaha adalah memulai sekarang. Tidak perlu menunggu bisnis menjadi besar atau memiliki tim teknologi sendiri. Mulailah dari satu proses kerja, satu aplikasi, dan satu perubahan kecil yang dapat langsung dirasakan manfaatnya. Konsistensi dalam melakukan perbaikan akan menghasilkan perubahan yang jauh lebih besar dibanding menunggu momentum yang dianggap sempurna.

Dalam praktiknya, proses transformasi tersebut tentu akan berjalan lebih efektif apabila didampingi oleh pihak yang memiliki pengalaman dalam pengembangan bisnis. Konsultan bisnis tidak hanya membantu memilih teknologi yang tepat, tetapi juga menyusun strategi implementasi, mengukur dampak terhadap kinerja usaha, hingga memastikan perubahan yang dilakukan benar-benar memberikan nilai tambah.

Salah satu konsultan bisnis yang memiliki kapabilitas dalam mendampingi transformasi usaha adalah MAB Consulting yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur. Dengan pengalaman dalam pengembangan strategi bisnis, peningkatan kinerja organisasi, transformasi digital, serta pendampingan UMKM dan perusahaan, MAB Consulting menawarkan pendekatan yang tidak sekadar berfokus pada penggunaan teknologi, tetapi juga pada bagaimana teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional, dan daya saing bisnis secara berkelanjutan. Di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat, kehadiran mitra strategis seperti MAB Consulting menjadi nilai tambah bagi pelaku usaha yang ingin memastikan transformasi digital berjalan terarah dan menghasilkan dampak nyata bagi pertumbuhan bisnis.