Belajar dari Sosok farnanda, Ketika Skripsi Tidak Berhenti di Kampus
Bagi sebagian orang, skripsi adalah syarat terakhir untuk mendapatkan gelar. Bagi Farnanda Kurniawan, skripsi justru menjadi awal untuk membawa persoalan nyata di dunia bisnis ke dalam sebuah solusi yang berpotensi dikembangkan lebih jauh.
Tidak semua persoalan bisnis selesai dengan menambah orang, membeli software baru, atau membuat lebih banyak laporan.
Terkadang, masalahnya justru terletak pada bagaimana satu sistem terhubung dengan sistem lainnya.
Persoalan itulah yang ditemukan Farnanda Kurniawan dalam perjalanan profesionalnya sebagai Founder & CEO MAB Consulting. Dalam menangani sejumlah klien rumah sakit, ia menemukan adanya kesenjangan antara sistem pelayanan dan sistem akuntansi.
Data transaksi sebenarnya sudah tersedia di sistem operasional rumah sakit. Namun, ketika data tersebut akan digunakan dalam proses akuntansi akuntansi, masih diperlukan proses rekap dan pengolahan secara manual, yang umumnya menggunakan Excel. Data kemudian harus diproses kembali beberapa kali sebelum dapat digunakan sebagai dasar pencatatan.
Bagi sebagian orang, kondisi tersebut mungkin hanya terlihat sebagai persoalan administrasi.
Namun bagi seseorang yang terbiasa melihat persoalan dari perspektif akuntansi, manajemen, sistem, dan proses bisnis, persoalan tersebut menyimpan pertanyaan yang lebih besar.
Mengapa data yang sudah tersedia masih harus melewati begitu banyak proses manual?
Dari pertanyaan itulah gagasan penelitian Farnanda berkembang.
Ketika Persoalan Bisnis Masuk ke Ruang Akademik
Saat kembali menempuh pendidikan Magister Manajemen di Universitas Kristen Petra, Farnanda tidak memilih topik penelitian yang jauh dari dunia yang selama ini digelutinya.
Tugas akhirnya berjudul “Analisa rencana integrasi sistem manajemen informasi dan sistem informasi akuntansi rumah sakit X tipe C pada alur pendapatan.”
Topik tersebut menjadi menarik karena lahir dari permasalahan yang benar-benar ditemui di lapangan.
Penelitian kemudian diarahkan untuk memetakan siklus pendapatan rumah sakit, mengidentifikasi sumber data dan titik transaksi, lalu melihat bagaimana data dari sistem pelayanan dapat diterjemahkan menjadi informasi yang dibutuhkan oleh sistem akuntansi. Dari proses tersebut lahirlah rencana integrasi dan sebuah prototipe.
Prototipe tersebut fokus pada modul Integrasi Siklus Pendapatan.
Konsepnya adalah menghubungkan transaksi pelayanan rumah sakit di sisi front-end dengan proses pencatatan akuntansi di sisi back-end. Dengan mekanisme pemetaan dan otomatisasi, transaksi yang terjadi dapat diterjemahkan menjadi pencatatan akuntansi tanpa harus terlalu banyak melewati proses manual.
Di akhir skripsi ini mulai menemukan makna yang berbeda.
Ia tidak lagi sekadar menjadi dokumen akademik.
Ia menjadi bukti konsep dari sebuah gagasan yang lahir dari kebutuhan nyata.
Dari Skripsi Menjadi Prototipe
Keunikan penelitian tersebut terletak pada upayanya mempertemukan tiga perspektif sekaligus: proses bisnis rumah sakit, sistem informasi, dan akuntansi.
Farnanda tidak bermaksud menggantikan sistem yang sudah ada. Tujuannya, penelitian tersebut mencoba merancang sebuah lapisan integrasi yang menjadi penghubung antara sistem operasional dan sistem akuntansi.
Pendekatan ini menampilkan satu hal penting dalam transformasi digital:
Teknologi tidak selalu harus dimulai dengan mengganti semuanya.
Terkadang, yang dibutuhkan justru adalah membangun jembatan agar sistem yang sudah ada dapat bekerja lebih baik bersama-sama.
Hasil penelitian tersebut saat ini masih berada pada tahap prototype dan R&D. Namun, konsepnya diarahkan untuk dikembangkan menjadi sistem dengan skala yang lebih luas, khususnya dalam mengintegrasikan proses operasional front-end dengan sistem akuntansi di back-end. Pengembangan tersebut juga direncanakan menjadi salah satu fokus dari entitas baru dalam grup, MAB Technova.
Dengan demikian, perjalanan penelitian tersebut belum selesai ketika sidang berakhir.
Justru di situlah perjalanan berikutnya dimulai.
Pendidikan yang Kembali ke Dunia Nyata
Apa yang dilakukan Farnanda memberikan perspektif menarik tentang pendidikan.
Pendidikan sering kali dipisahkan dari dunia profesional. Teori berada di ruang kelas, sedangkan praktik berada di dunia kerja.
Padahal, keduanya seharusnya saling menguatkan.
Pengalaman di lapangan dapat melahirkan pertanyaan akademik. Pendidikan kemudian memberikan kerangka untuk memahami dan menguji pertanyaan tersebut. Hasilnya dapat kembali dibawa ke dunia profesional sebagai solusi.
Siklus seperti inilah yang membuat pendidikan menjadi lebih bermakna.
Farnanda sendiri mengakui bahwa salah satu kebiasaan belajarnya adalah mencoba menghubungkan materi yang dipelajari di kelas dengan kasus yang ditemui dalam pekerjaan maupun bisnis.
Dengan cara pandang tersebut, belajar tidak lagi sekedar tentang memperoleh nilai.
Belajar adalah proses mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi solusi.
Dari Solusi Teknologi ke Cara Berpikir Sistem
Menariknya, diskusi tentang integrasi tidak berhenti pada sistem teknologi.
Ia juga relevan dalam cara sebuah organisasi bekerja.
Organisasi modern memiliki banyak fungsi: keuangan, operasional, pemasaran, sumber daya manusia, teknologi, dan berbagai fungsi lainnya.
Masing-masing dapat memiliki sistem dan target sendiri.
Namun, ketika setiap bagian berjalan sendiri-sendiri, organisasi bisa kehilangan sesuatu yang lebih penting: keterhubungan.
Disingkirkannya sistem manajemen menjadi penting.
Sebuah organisasi tidak cukup hanya memiliki orang-orang yang kompeten. Mereka juga membutuhkan proses yang jelas, pembagian tanggung jawab, alur informasi, indikator kinerja, dan sistem yang memungkinkan setiap bagian bekerja menuju tujuan yang sama.
Pengalaman Farnanda menunjukkan bahwa permasalahan tersebut memiliki pola yang serupa dengan sistem akuntansi akuntansi.
Sistem yang baik bukan hanya tentang bagaimana setiap bagian bekerja dengan baik, namun bagaimana setiap bagian dapat bekerja bersama.
Kepemimpinan: Membangun Sistem, Bukan Ketergantungan
Pemikiran tentang sistem kemudian membawa kita pada pertanyaan mengenai kepemimpinan.
Dalam perjalanan profesionalnya, Farnanda menyadari bahwa terlalu fokus pada target dapat membuat seorang pemimpin merasa harus menangani terlalu banyak hal sendiri.
Namun, semakin besar organisasi, pendekatan seperti itu semakin sulit dipertahankan.
Oleh karena itu, ia mulai belajar mengenai delegasi, membangun sistem, dan mempercayai tim.
Ada perubahan cara pandang yang penting di sini.
Dari:
“Bagaimana saya menyelesaikan semuanya?”
menjadi:
“Bagaimana saya membangun sistem agar tim mampu menyelesaikannya?”
Itulah salah satu perubahan paling penting dalam perjalanan seorang pemimpin.
Pemimpin tidak seharusnya menciptakan organisasi yang semakin bergantung padanya.
Sebaliknya, pemimpin harus membangun manusia dan sistem yang membuat organisasi mampu terus berjalan, berkembang, dan beradaptasi.
Skripsi sebagai Awal dari Pola Pikir Inovasi
Kisah ini bukan hanya tentang sebuah tugas akhir.
Ini adalah tentang cara melihat pendidikan.
Skripsi dapat menjadi tanggung jawab administratif untuk memperoleh gelar.
Tetapi skripsi juga dapat menjadi ruang untuk menemukan persoalan, menguji gagasan, membangun prototipe, dan membuka peluang inovasi.
Begitulah perjalanan Farnanda. Ia membawa persoalan yang ditemukan dalam konsultasi ke ruang akademik. Dari sana lahirlah integrasi dan prototipe yang masih memiliki ruang untuk dikembangkan lebih jauh.
Cara berpikir seperti ini penting di tengah perubahan dunia bisnis yang semakin cepat.
Sebab organisasi tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu menjalankan sistem. Organisasi membutuhkan orang yang mampu meninjau apakah sistem tersebut masih relevan.
Ketika Pertumbuhan Tidak Lagi Hanya Tentang Bisnis
Bagi Farnanda, perjalanan tersebut juga memperluas makna pertumbuhan.
Ia tidak hanya ingin membangun bisnis yang besar, tetapi sesuatu yang memiliki nilai dan mampu bertahan dalam jangka panjang. Ia ingin terus mengembangkan kompetensi di bidang manajemen strategis, akuntansi, sistem akuntansi, penasihat bisnis, dan integrasi teknologi.
Namun, ada satu hal lain yang tidak kalah penting: pembangunan manusia.
Pengetahuan yang diperoleh selama bertahun-tahun tidak ingin berhenti sebagai kompetensi pribadi.
Ia ingin pengetahuan tersebut dapat ditransfer kepada tim dan generasi profesional berikutnya, sekaligus mengembangkan kerangka kerja untuk pengembangan organisasi dan pengembangan sumber daya manusia melalui nilai IFRS: Integrity, Fun, Responsibility, Sustainability.
Dalam perjalanan pendidikan menemukan lingkarannya.
Belajar untuk diri sendiri.
Menghasilkan solusi untuk organisasi.
Kemudian membagikan pengetahuan agar orang lain ikut berkembang.
Gelar Boleh Selesai, Belajar Jangan Berhenti
Sebuah skripsi memang memiliki halaman terakhir.
Sidang selesai. Nilai keluar. Gelar diperoleh.
Tetapi bagi sebagian orang, justru setelah itu muncul pertanyaan yang lebih penting:
“Apa yang bisa dilakukan dengan pengetahuan ini?”
Pertanyaan itulah yang membuat pendidikan tidak berhenti di kampus.
Karena gelar mungkin membuka pintu pertama, tetapi kompetensi menentukan perjalanan berikutnya.
Dan sebuah karya akademik mungkin selesai sebagai dokumen, tetapi gagasan di dalamnya dapat terus hidup jika dikembangkan menjadi solusi.
Bagi Farnanda, mungkin inilah makna sebenarnya dari Stay Relevant, Stay Ahead.
Bukan sekedar terus mengejar sesuatu yang baru.
Tetapi terus belajar, membaca perubahan, menemukan permasalahan, membangun solusi, memperbaiki sistem, dan membantu manusia di dalam organisasi untuk ikut bertumbuh.
Sebab, pendidikan yang paling bernilai bukanlah pendidikan yang berhenti ketika kita lulus, melainkan pendidikan yang terus bekerja setelah kita meninggalkan kampus.
Baca Juga:
Stay Relevant, Stay Ahead: Belajar, Memimpin, dan Membangun Sistem untuk Bertumbuh