Blog

Transaksi Lintas Negara Makin Mudah, Ini Peluang Besar UMKM Indonesia

Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ekspansi pasar selama ini sering dibayangkan sebagai sesuatu yang membutuhkan modal besar, jaringan distribusi luas, hingga kemampuan mengelola transaksi internasional. Namun, perkembangan ekosistem pembayaran digital mulai mengubah cara pandang tersebut.

Kehadiran pembayaran lintas negara melalui konektivitas QR menjadi salah satu perkembangan penting yang perlu dibaca bukan sekadar sebagai inovasi sistem pembayaran, tetapi sebagai peluang bisnis. Ketika konsumen dari negara lain dapat membayar produk atau jasa di Indonesia dengan mekanisme yang semakin sederhana, batas antara pasar lokal dan pasar regional menjadi semakin tipis.

Perubahan ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kemudahan transaksi. Lebih jauh, konektivitas pembayaran merupakan bagian dari infrastruktur pertumbuhan yang dapat membantu UMKM memperluas pasar, meningkatkan omzet, membangun pengalaman pelanggan yang lebih baik, sekaligus mempersiapkan bisnis masuk ke ekosistem ekonomi regional.

Ketika Pembayaran Menjadi Pintu Masuk Pasar Baru

Bank Indonesia terus memperluas konektivitas pembayaran antarnegara. Setelah QRIS lintas negara terhubung dengan sejumlah negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China, perluasan kerja sama juga diarahkan ke negara lain, termasuk India, Arab Saudi, dan Hong Kong.

Bagi konsumen, perubahan ini mungkin terlihat sederhana: cukup menggunakan aplikasi pembayaran yang kompatibel untuk menyelesaikan transaksi. Namun bagi pelaku usaha, implikasinya jauh lebih besar.

Bayangkan sebuah usaha kuliner di destinasi wisata. Sebelumnya, wisatawan asing mungkin menghadapi kendala ketika harus membayar menggunakan metode yang tidak familiar. Kini, semakin terhubungnya sistem pembayaran membuka kemungkinan transaksi berlangsung lebih mudah.

Hal yang sama berlaku bagi pengusaha kerajinan, fesyen, produk kreatif, oleh-oleh, hingga berbagai jasa yang menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata.

Teknologi pembayaran tidak otomatis membuat omzet meningkat. Namun, teknologi tersebut menghilangkan salah satu hambatan yang sebelumnya dapat mengurangi kemungkinan terjadinya transaksi.

Artinya, peluang baru telah terbuka. Persoalannya kemudian adalah apakah UMKM siap menangkap peluang tersebut.

Angka Transaksi Menunjukkan Pasar yang Mulai Bergerak

Perkembangan transaksi lintas negara memberikan sinyal bahwa konektivitas pembayaran bukan lagi sekadar konsep masa depan.

Bank Indonesia mencatat nilai transaksi QRIS lintas negara secara net mencapai Rp1,52 triliun sepanjang kuartal II 2026, sementara transaksi inbound mencapai Rp1,85 triliun. Besarnya transaksi inbound menunjukkan adanya aktivitas konsumen dan wisatawan asing yang menggunakan sistem pembayaran yang telah terhubung ketika melakukan transaksi di Indonesia.

Angka tersebut seharusnya dibaca sebagai sinyal pasar. Bagi UMKM, terutama yang bergerak di sektor kuliner, pariwisata, ekonomi kreatif, dan perdagangan ritel, keberadaan konsumen asing berarti munculnya segmen pasar baru. Mereka tidak perlu selalu membayangkan ekspansi internasional dalam bentuk membuka toko di negara lain.

Pasar internasional dapat dimulai dari wisatawan yang datang ke Indonesia.

Konsep ini penting karena ekspansi bisnis pada dasarnya tidak selalu berarti membuka cabang baru. Ekspansi dapat dimulai dengan meningkatkan kemampuan bisnis yang sudah ada untuk melayani konsumen dari segmen yang lebih luas.

Tantangan UMKM Bukan Lagi Sekadar Menjual

Namun, di sinilah banyak pelaku UMKM perlu melakukan perubahan cara berpikir.

Kemudahan pembayaran tidak akan banyak berarti apabila produk tidak kompetitif, harga tidak jelas, kualitas tidak konsisten, pelayanan lambat, atau informasi produk sulit ditemukan secara digital.

Konsumen asing yang datang ke sebuah destinasi tidak hanya membutuhkan kemudahan membayar. Mereka juga membutuhkan pengalaman transaksi yang sederhana, informasi produk yang mudah dipahami, serta tingkat kepercayaan terhadap merchant.

Karena itu, digitalisasi UMKM harus dipandang sebagai sebuah ekosistem.

QRIS hanyalah salah satu bagian. Di belakangnya terdapat kebutuhan untuk memperbaiki katalog produk, membangun branding, mengelola media sosial, menyediakan informasi dalam format yang mudah dipahami, memperbaiki pencatatan keuangan, hingga memahami perilaku konsumen.

UMKM yang ingin memanfaatkan pasar regional harus mulai berpikir seperti bisnis yang melayani pasar internasional, meskipun skala usahanya masih kecil.

Ada Celah Besar dalam Kontribusi Ekspor UMKM

Urgensi transformasi tersebut semakin terlihat ketika melihat posisi UMKM dalam perekonomian nasional.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap PDB dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Namun kontribusinya terhadap ekspor masih sekitar 15,7 persen.

Angka tersebut memperlihatkan sebuah paradoks. UMKM sangat besar di dalam negeri, tetapi belum sepenuhnya kuat di pasar internasional.

Karena itu, salah satu tantangan strategis Indonesia bukan hanya memperbanyak jumlah UMKM, melainkan meningkatkan kualitas dan kapasitas UMKM agar mampu masuk ke pasar yang lebih luas.

Konektivitas pembayaran lintas negara dapat menjadi salah satu bagian dari solusi tersebut.

Memang, QRIS lintas negara tidak secara langsung mengubah sebuah usaha menjadi eksportir. Namun, semakin mudah transaksi dilakukan, semakin rendah pula suatu hambatan untuk berinteraksi dengan konsumen dari luar negeri.

Bagi UMKM yang bergerak di sektor produk, peluang tersebut bahkan dapat berkembang lebih jauh melalui penjualan langsung kepada konsumen asing, terutama ketika dipadukan dengan perdagangan digital, media sosial, marketplace, dan sistem logistik yang semakin terintegrasi.

Dari Digitalisasi Menuju Strategi Bisnis

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap digitalisasi sebagai tujuan. Padahal, digitalisasi hanyalah alat. Tujuan akhirnya tetap pertumbuhan bisnis.

Karena itu, pelaku UMKM perlu menjawab sejumlah pertanyaan sederhana: siapa konsumen yang ingin dituju, produk apa yang paling potensial, berapa harga yang kompetitif, bagaimana konsumen menemukan produk, bagaimana transaksi dilakukan, dan bagaimana pelanggan kembali membeli.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus diterjemahkan menjadi strategi. UMKM yang ingin menangkap peluang konsumen regional misalnya dapat mulai dengan memetakan produk yang paling diminati wisatawan asing, memperbaiki kemasan, menyediakan informasi produk secara bilingual, membangun kanal digital, mencatat transaksi secara rapi, dan memastikan sistem pembayaran tersedia.

Langkah tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, fondasi bisnis akan menjadi jauh lebih siap ketika pasar semakin terbuka.

Konsultan Bisnis Dibutuhkan untuk Mengubah Peluang Menjadi Strategi

Di tengah perubahan tersebut, peran konsultan bisnis menjadi semakin relevan. Pelaku usaha sering kali memiliki produk yang potensial, tetapi tidak selalu memiliki waktu, sumber daya, atau keahlian untuk memetakan strategi pertumbuhan secara menyeluruh.

Konsultan dapat membantu melihat bisnis dari perspektif yang lebih objektif: mulai dari model bisnis, keuangan, operasional, pemasaran, sumber daya manusia, risiko, hingga peluang ekspansi.

Yang paling penting, pendampingan bisnis seharusnya tidak berhenti pada pemberian rekomendasi. Strategi harus diterjemahkan menjadi langkah yang dapat diukur dan dijalankan.

Untuk pelaku usaha di Jawa Timur, khususnya Surabaya, MAB Consulting dapat menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. MAB Consulting merupakan PT Mitra Akselerasi Bersama yang berbasis di Surabaya dan menawarkan konsep One Stop Consulting Solution, dengan layanan yang mencakup konsultasi bisnis, akuntansi, perpajakan, audit, sistem informasi, hingga pengembangan strategi bisnis.

Dengan pendekatan multidisiplin tersebut, MAB Consulting dapat menjadi mitra bagi UMKM maupun perusahaan yang ingin tidak sekadar mengikuti tren digitalisasi, tetapi membangun sistem bisnis yang lebih tertata dan siap berkembang. MAB Consulting sendiri menyatakan fokusnya pada solusi yang dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pertumbuhan jangka panjang klien.

Konektivitas pembayaran lintas negara adalah peluang, bukan jaminan keberhasilan. QRIS dapat membuka pintu, tetapi kualitas produk, strategi pemasaran, tata kelola keuangan, pelayanan, dan kemampuan membaca pasar tetap menentukan apakah pintu tersebut benar-benar menghasilkan pertumbuhan.

Bagi UMKM Indonesia, saatnya berhenti melihat pasar internasional sebagai sesuatu yang jauh dan sulit dijangkau. Pasar itu bisa dimulai dari wisatawan yang datang ke toko hari ini, konsumen asing yang menemukan produk melalui kanal digital, atau transaksi kecil yang dilakukan dengan satu pemindaian QR.

Ketika batas pembayaran semakin tipis, batas pasar pun ikut berubah. Tantangannya sekarang bukan lagi apakah UMKM Indonesia memiliki kesempatan untuk masuk ke pasar regional, tetapi seberapa siap mereka mengubah kesempatan tersebut menjadi pertumbuhan bisnis yang nyata dan berkelanjutan.