Expert Talks with Farnanda Kurniawan, Masa Depan Akuntan di Era AI: From Number Keeper to Strategic Business Partner
Profesi akuntansi sedang berada di tengah perubahan besar. Kemajuan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, tuntutan keberlanjutan, hingga kebutuhan tata kelola bisnis membuat peran akuntan tidak lagi cukup hanya berkutat pada pencatatan dan pelaporan angka.
Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan utama yang disampaikan Farnanda Kurniawan, S.T., M.M., CPTT., CPFA., CMA., CMT., Founder & CEO PT Mitra Akselerasi Bersama (MAB Consulting) dalam Seminar Nasional dan Call for Paper yang digelar Program Studi Akuntansi FEB UPN “Veteran” Jawa Timur, Rabu, 16 September 2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Shaping the Future of Accounting: Sustainability, Digital Innovation, and Business Governance” dan berlangsung di Auditorium Lantai 9, Gedung Kuliah Bersama (GKB) II FEB UPN “Veteran” Jawa Timur.
Dalam forum tersebut, Farnanda membawakan materi bertajuk “Beyond The Numbers: Redefining Accountants in the Era of AI, Sustainability & Digital Business.” Materi itu membedah bagaimana profesi akuntansi perlu beradaptasi ketika teknologi tidak hanya mengubah cara pekerjaan dilakukan, tetapi juga mengubah ekspektasi terhadap kompetensi seorang akuntan.
Farnanda tampil sebagai salah satu pembicara bersama Fajar Kristanto Gautama Putra, S.A., M.A., CRA., Deputy Director of ESG Intelligence sekaligus Dosen Universitas Airlangga. Seminar tersebut dimoderatori Wahyu Helmy Dimayanti Sukiswo, S.A., M.A., Dosen Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur.
Ketika AI Datang, Apa yang Berubah?
Dalam paparannya, Farnanda mengajak peserta melihat perkembangan AI secara lebih proporsional.
Pertanyaan apakah AI akan menggantikan akuntan tidak cukup dijawab hanya dengan “ya” atau “tidak”. Menurut materi yang disampaikan, dampak AI sangat bergantung pada jenis pekerjaan serta nilai yang diberikan seorang akuntan.
Pekerjaan yang berfokus pada pemrosesan informasi akan semakin mudah diotomatisasi. Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan interpretasi, pertimbangan profesional, pemahaman konteks bisnis, etika, serta akuntabilitas tetap membutuhkan peran manusia.
Perubahan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi dunia akuntansi.
Profesi ini telah melewati berbagai fase teknologi, mulai dari pembukuan manual, spreadsheet, software akuntansi, ERP, cloud, automation, hingga kini memasuki era AI.
Karena itu, pertanyaan penting bagi profesi akuntansi bukan semata-mata software apa yang akan digunakan berikutnya.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Peran akuntan akan berubah menjadi apa?”
Teknologi dapat mengubah cara pekerjaan akuntansi dilakukan. Namun, kebutuhan terhadap informasi akuntansi yang dapat dipercaya tetap ada.
Akuntansi Tidak Dimulai dari Jurnal
Salah satu gagasan penting dalam materi Farnanda adalah perubahan cara pandang terhadap akuntansi.
Akuntansi tidak dimulai dari jurnal.
Akuntansi dimulai dari bisnis.
Sebuah transaksi pembelian, misalnya, tidak langsung muncul sebagai angka dalam laporan keuangan. Sebelum sampai ke general ledger, terdapat rangkaian proses bisnis yang panjang, mulai dari kebutuhan pembelian, permintaan pembelian, purchase order, penerimaan barang, invoice vendor, three-way matching, pencatatan utang hingga pembayaran.
Artinya, akuntan masa depan tidak cukup hanya memahami jurnal dan laporan keuangan.
Mereka perlu memahami arsitektur transaksi, termasuk bagaimana sebuah transaksi bergerak dari proses bisnis hingga akhirnya menjadi informasi keuangan.
Perubahan tersebut membuat posisi akuntan juga bergeser. Akuntan tidak lagi hanya berada di ujung proses untuk mencatat transaksi, tetapi perlu memahami titik-titik kontrol, memvalidasi sumber data, memahami logika pelaporan, dan melihat bagaimana kesalahan pada proses awal dapat memengaruhi informasi keuangan di tahap akhir.
Dengan demikian, kemampuan melihat proses secara utuh menjadi semakin penting.
Beli Software Bukan Berarti Transformasi Digital
Farnanda juga menyoroti salah satu persoalan yang kerap muncul dalam proses digitalisasi perusahaan.
Membeli software tidak otomatis berarti perusahaan telah melakukan transformasi digital.
Sebuah perusahaan dapat memiliki software akuntansi yang baik, tetapi tetap menghasilkan informasi yang bermasalah.
Masalahnya dapat muncul dari berbagai aspek, seperti master data yang tidak konsisten, chart of accounts yang tidak sesuai kebutuhan manajemen, cut-off yang tidak disiplin, rekonsiliasi yang tidak rutin, kelemahan hak akses dan approval, hingga opening balance yang bermasalah.
Karena itu, transformasi membutuhkan lebih dari sekadar teknologi.
Diperlukan perubahan proses, disiplin data, pengendalian, kapabilitas manusia, serta kepemimpinan.
Dalam perspektif TOE Framework, keberhasilan adopsi teknologi dipengaruhi oleh konteks teknologi, organisasi, dan lingkungan. Kesiapan manusia, proses, kepemimpinan, sumber daya, regulasi, kompetisi, hingga tekanan industri turut menentukan keberhasilan transformasi.
Pesannya jelas: teknologi yang baik tidak otomatis menghasilkan informasi yang baik.
Dari Data Menjadi Insight
Di sinilah nilai strategis seorang akuntan mulai terlihat.
Data bukan informasi.
Informasi juga belum tentu menjadi insight.
Farnanda memberikan perspektif bahwa angka dalam laporan keuangan perlu dibaca bersama konteks bisnis yang melatarbelakanginya.
Misalnya, sebuah perusahaan mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 15 persen. Sekilas, angka tersebut terlihat positif.
Namun, jika pada saat yang sama margin turun, jumlah hari piutang meningkat, dan arus kas menjadi negatif, maka pertumbuhan tersebut perlu dianalisis lebih jauh.
Akuntan masa depan tidak cukup berhenti pada pertanyaan:
“Berapa penjualannya?”
Pertanyaan berikutnya adalah: Mengapa penjualan meningkat? Apakah pertumbuhan tersebut menguntungkan? Bagaimana dampaknya terhadap kas? Dan apakah pertumbuhan itu benar-benar menciptakan nilai?
Dari sinilah proses akuntansi bergerak dari data → information → insight → decision → action → value.
Akuntansi tidak lagi hanya menjelaskan apa yang telah terjadi, tetapi juga membantu organisasi memahami mengapa sesuatu terjadi dan apa yang dapat dilakukan selanjutnya.
Pertumbuhan Belum Tentu Menciptakan Nilai
Salah satu ilustrasi dalam materi tersebut menggambarkan sebuah perusahaan yang mengalami kenaikan revenue sebesar 20 persen.
Manajemen mungkin melihatnya sebagai kabar baik.
Namun, jika pada saat bersamaan gross margin turun 4 persen, diskon meningkat 35 persen, receivable days melonjak dari 35 menjadi 62 hari, inventory days meningkat, dan operating cash flow turun 18 persen, maka pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah perusahaan tumbuh.
Melainkan: Apakah perusahaan benar-benar menciptakan nilai?
Di sinilah management accounting memiliki peran penting.
Laporan keuangan memberikan gambaran mengenai hasil atau lagging indicators, seperti revenue, profit, ROA, ROE, EBITDA, dan operating cash flow.
Namun, untuk memahami penyebab di balik angka tersebut, dibutuhkan leading indicators, seperti customer retention, conversion rate, inventory turnover, capacity utilization, produktivitas karyawan, hingga tingkat cacat produk.
Akuntan yang mampu menghubungkan kedua jenis indikator tersebut tidak hanya membaca hasil.
Ia juga membaca driver di balik hasil.
Accountant + AI = Augmented Accountant
Hubungan antara AI dan profesi akuntansi kemudian menjadi semakin menarik.
Dalam materi Farnanda, AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai pekerjaan seperti rekonsiliasi otomatis, deteksi anomali, forecasting dan skenario, ekstraksi dokumen, narrative reporting, hingga variance analysis.
Namun, penggunaan AI tidak berarti seluruh keputusan diserahkan kepada mesin.
Justru semakin besar penggunaan AI, semakin penting kemampuan manusia untuk melakukan validasi.
Siapa yang memvalidasi model?
Data apa yang digunakan?
Apakah asumsi yang digunakan masuk akal?
Apakah terdapat bias atau hallucination?
Siapa yang memberikan persetujuan?
Dan yang paling penting:
Siapa yang bertanggung jawab?
Dalam konteks tersebut, AI dapat memberikan rekomendasi, tetapi akuntabilitas tetap berada pada manusia dan organisasi yang mengambil keputusan.
Karena itu, masa depan profesi akuntansi bukan semata-mata accountant versus AI, melainkan:
Accountant + AI = Augmented Accountant.
AI mengambil pekerjaan yang repetitif, sementara manusia dapat memanfaatkan waktunya untuk analisis, judgment, komunikasi, dan pengambilan keputusan.
Semakin Otomatis, Semakin Penting Pengendalian
Transformasi digital juga menghadirkan sebuah paradoks.
Otomatisasi memang mengurangi pekerjaan manual. Namun, ketika kesalahan terjadi pada proses manual, dampaknya mungkin terbatas pada sejumlah transaksi.
Sebaliknya, jika kesalahan terdapat pada logika sistem, kesalahan yang sama dapat menyebar ke ribuan bahkan puluhan ribu transaksi.
Karena itu, muncul prinsip:
“Automation without control is automated risk.”
Pengendalian internal menjadi semakin penting dalam lingkungan akuntansi digital.
Access rights, approval matrix, audit trail, exception report, change management, serta master data governance menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi.
Teknologi membuat proses lebih cepat.
Tetapi kontrol memastikan kecepatan tersebut tidak justru menciptakan risiko yang lebih besar.
Akuntansi Tidak Lagi Hanya Bicara Laporan Keuangan
Perubahan profesi akuntansi juga berkaitan dengan meningkatnya perhatian terhadap sustainability.
Tidak semua faktor yang menciptakan nilai dapat langsung terlihat dalam laporan keuangan.
Brand, human capital, customer loyalty, carbon exposure, cyber risk, reputation, supply chain risk, dan innovation dapat memengaruhi masa depan arus kas, akses pembiayaan maupun biaya modal perusahaan.
Dalam konteks tersebut, pemahaman mengenai nilai perusahaan menjadi semakin luas.
Kerangka Integrated Reporting memperluas perspektif melalui enam jenis modal, yakni financial, manufactured, intellectual, human, social and relationship, serta natural capital.
Hal tersebut bukan berarti angka keuangan menjadi tidak penting.
Justru sebaliknya.
Angka keuangan tetap penting, tetapi akuntan perlu memahami apa yang berada di balik angka tersebut dan bagaimana berbagai faktor menciptakan nilai dalam jangka panjang.
2027 dan Lanskap Baru Akuntansi Indonesia
Perubahan tersebut juga dikaitkan dengan perkembangan standar akuntansi di Indonesia.
Dalam materi yang disampaikan Farnanda, tahun 2027 ditempatkan sebagai salah satu momentum penting dengan hadirnya PSAK 118 mengenai penyajian dan pengungkapan laporan keuangan, serta PSPK 1 dan PSPK 2 mengenai pengungkapan keberlanjutan dan informasi terkait iklim.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi akuntan tidak cukup berhenti pada kemampuan teknis menyusun laporan.
Akuntan perlu memahami bagaimana informasi keuangan dikomunikasikan, bagaimana informasi keberlanjutan dikaitkan dengan bisnis, serta bagaimana informasi tersebut digunakan oleh para pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan.
T-Shaped Accountant
Lantas, seperti apa kompetensi yang dibutuhkan akuntan masa depan?
Salah satu konsep yang ditawarkan adalah T-Shaped Accountant.
Akuntan tetap membutuhkan kedalaman pengetahuan dalam bidang akuntansi. Namun, mereka juga membutuhkan wawasan lintas bidang, mulai dari business, strategy, data, AI, governance hingga communication.
Kompetensi management accounting modern bahkan mencakup leadership, business acumen, data analytics, digital transformation, emerging technologies, cybersecurity, sustainable business, governance, strategy, planning, dan performance.
Dengan demikian, akuntan masa depan bukan orang yang mengetahui sedikit tentang segala hal.
Ia tetap harus memiliki fondasi akuntansi yang kuat, tetapi mampu berbicara menggunakan bahasa bisnis, teknologi, data, risiko, tata kelola dan keputusan.
Dari Record Keeper Menjadi Strategic Business Architect
Perubahan profesi akuntansi dapat dilihat sebagai sebuah perjalanan.
Dari manual bookkeeping menuju spreadsheet.
Dari spreadsheet menuju accounting software dan ERP.
Dari ERP menuju cloud, automation, dan analytics.
Dan berikutnya menuju accounting yang berorientasi pada sustainable value creation.
Sejalan dengan perjalanan tersebut, posisi akuntan juga bergerak dari transaction processor, menjadi report preparer, kemudian analyst, business partner, hingga strategic business architect.
Maka, pertanyaan penting bagi mahasiswa maupun praktisi akuntansi bukan lagi:
“Apakah AI akan menggantikan saya?”
Pertanyaan yang lebih relevan adalah: “Apa yang dapat saya lakukan sehingga keberadaan AI justru membuat saya menjadi lebih bernilai?”
Tentu untuk menjawab pertanyaan itu kita harus mulai dari fondasi yang kuat: menguasai akuntansi, memahami proses bisnis, mempelajari ERP dan workflow, membangun literasi data, menggunakan AI tetapi tetap kritis terhadap hasilnya, mengembangkan business acumen, serta mampu mengomunikasikan insight secara jelas.
Masa depan akuntansi bukan tentang bagaimana mencatat masa lalu dengan lebih cepat.
Masa depan akuntansi adalah tentang bagaimana memahami kondisi saat ini dengan lebih baik, mengantisipasi masa depan lebih awal, dan membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih baik.
Akuntan masa depan bukan sekadar penjaga angka.
Ia adalah penerjemah data, profesional yang mampu memanfaatkan teknologi, mitra bisnis, penjaga risiko dan tata kelola, sekaligus mitra strategis dalam pengambilan keputusan.
Dari Record Keeper menuju Strategic Business Architect.
Itulah makna Beyond The Numbers, gagasan yang dibawa Farnanda Kurniawan dalam forum akademik yang mempertemukan isu akuntansi, sustainability, inovasi digital, dan tata kelola bisnis di UPN “Veteran” Jawa Timur.
Bagi perusahaan yang ingin menghadapi perubahan tersebut secara lebih terarah, transformasi tidak cukup hanya dimulai dari teknologi. Dibutuhkan mitra yang mampu memahami bisnis secara menyeluruh, mulai dari strategi, keuangan, proses bisnis, digitalisasi, tata kelola hingga pengembangan organisasi. MAB Consulting hadir sebagai salah satu pilihan konsultan bisnis di Jawa Timur, khususnya Surabaya, yang dapat mendampingi perusahaan dalam menghadapi tantangan tersebut. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan business strategy, financial management, digital transformation, governance, hingga business advisory, MAB Consulting membantu perusahaan tidak sekadar beradaptasi terhadap perubahan, tetapi membangun fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan. Bagi perusahaan yang ingin bergerak dari sekadar bertahan menuju pertumbuhan yang lebih terarah, MAB Consulting dapat menjadi partner strategis untuk menyusun langkah, memperkuat sistem, dan menciptakan nilai bisnis yang lebih berkelanjutan. (Klik disini)