Blog

Bisnis Sudah Siap Naik Kelas, Mengapa SDM Justru Jadi Penghambat?

Banyak UMKM dan bisnis skala menengah di Indonesia sebenarnya sudah memiliki modal untuk berkembang. Teknologi semakin mudah diakses, pasar digital semakin terbuka, dan konsumen memiliki lebih banyak pilihan dibanding sebelumnya.

Namun, ada satu persoalan yang sering kali tidak terlihat di balik proses transformasi tersebut: ketersediaan SDM yang mampu memimpin perubahan.

Sebagai konsultan bisnis, kami melihat bahwa transformasi perusahaan tidak pernah hanya berkaitan dengan teknologi atau modal. Ketika sebuah bisnis ingin melakukan digitalisasi, membuka cabang, memperluas pasar, memperbaiki sistem keuangan, atau meningkatkan produktivitas, selalu ada manusia yang berada di balik setiap keputusan.

Masalahnya, tidak semua perusahaan memiliki cukup banyak orang yang siap mengambil peran tersebut.

Di sinilah persoalan kepemimpinan menjadi penting. Bahkan, fondasi kepemimpinan sebenarnya tidak selalu dimulai ketika seseorang memasuki dunia kerja. Karakter, kemandirian, kemampuan mengambil keputusan, dan keberanian menghadapi tantangan sudah dapat dibentuk sejak masa pendidikan.

Salah satu contoh menarik datang dari SMPK PENABUR Jakarta melalui program “Spirit of Adventure” di Desa Tosari, kaki Gunung Bromo. Program semacam ini membawa siswa keluar dari rutinitas ruang kelas untuk menghadapi pengalaman yang menuntut kemandirian, kerja sama, keberanian, dan kemampuan beradaptasi.

Jika dilihat dari perspektif bisnis, pengalaman tersebut memiliki relevansi yang cukup besar.

Sebab, dunia usaha pada dasarnya juga merupakan lingkungan yang penuh ketidakpastian.

Mengapa Kepemimpinan Menjadi Tantangan bagi UMKM?

Transformasi bisnis membutuhkan orang yang mampu menerjemahkan strategi menjadi tindakan.

Pemilik usaha mungkin memiliki visi untuk membawa perusahaan ke level berikutnya. Namun, ketika bisnis mulai membesar, tidak mungkin seluruh keputusan terus bergantung pada satu orang.

Di sinilah perusahaan membutuhkan middle manager, supervisor, kepala divisi, hingga calon pemimpin generasi berikutnya.

Mereka harus mampu mengambil keputusan ketika pemilik tidak berada di tempat.

Mereka juga harus mampu mengelola konflik, menjaga produktivitas tim, memahami target bisnis, dan menerjemahkan perubahan strategi kepada anggota organisasi.

Sayangnya, banyak bisnis baru menyadari kebutuhan tersebut ketika perusahaan sudah mengalami masalah.

Misalnya, ketika ekspansi mulai berjalan tetapi operasional tidak terkendali. Ketika jumlah karyawan bertambah tetapi koordinasi semakin buruk. Atau ketika pemilik usaha merasa semua keputusan masih harus melalui dirinya sendiri.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan kapasitas kepemimpinan.

Dalam perspektif konsultan bisnis, kondisi ini perlu diantisipasi melalui leadership pipeline.

Perusahaan perlu mengetahui siapa saja talenta yang berpotensi menjadi pemimpin, kompetensi apa yang masih kurang, serta pengalaman seperti apa yang perlu diberikan agar mereka siap menerima tanggung jawab lebih besar.

Kepemimpinan Tidak Bisa Dibentuk Secara Instan

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam pengembangan SDM adalah menganggap kepemimpinan dapat dibentuk hanya melalui pelatihan.

Pelatihan memang penting. Tetapi pelatihan hanya salah satu bagian dari proses.

Kemampuan memimpin membutuhkan kombinasi antara pengetahuan, pengalaman, karakter, dan kesempatan untuk mengambil keputusan.

Seorang calon pemimpin perlu diberikan ruang untuk menghadapi masalah nyata.

Ia perlu belajar bahwa tidak semua keputusan menghasilkan hasil yang sempurna. Ia perlu mengalami bagaimana mengelola perbedaan pendapat dalam tim. Ia perlu memahami konsekuensi ketika mengambil keputusan yang salah.

Dengan kata lain, leadership adalah kompetensi yang membutuhkan praktik.

Karena itu, pengalaman pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk keluar dari zona nyaman memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia kerja.

Program seperti “Spirit of Adventure”, misalnya, dapat dilihat sebagai salah satu bentuk pengalaman yang mempertemukan peserta dengan tantangan, kerja sama, kemandirian, dan proses pengambilan keputusan.

Tentu saja, pengalaman tersebut tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin bisnis.

Namun, pengalaman menghadapi tantangan sejak dini dapat menjadi salah satu bagian dari fondasi yang kemudian dikembangkan melalui pendidikan lanjutan dan pengalaman profesional.

Apa yang Bisa Dilakukan UMKM?

Bagi pelaku UMKM, kesenjangan kepemimpinan bukan hanya masalah. Ini juga merupakan peluang untuk bergerak lebih awal.

Perusahaan tidak harus selalu menunggu hadirnya kandidat yang sudah sempurna di pasar tenaga kerja.

Sebaliknya, perusahaan dapat mulai membangun talenta dari dalam.

Langkah pertama adalah memetakan posisi strategis yang akan dibutuhkan dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Siapa yang nantinya akan menjadi kepala operasional? Siapa yang dapat dipercaya menangani keuangan? Siapa yang berpotensi memimpin tim penjualan? Siapa yang mampu menggantikan pemilik ketika bisnis semakin besar?

Setelah itu, perusahaan dapat melakukan pemetaan kompetensi.

Talenta yang memiliki kemampuan teknis tetapi belum memiliki kemampuan komunikasi dapat diberikan tanggung jawab memimpin proyek kecil. Karyawan yang sudah mampu mengelola tim dapat mulai diberikan target yang lebih strategis.

Pendekatan ini membuat pengembangan SDM menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar kegiatan HR.

Talenta Muda Bisa Menjadi Investasi Jangka Panjang

Perusahaan juga perlu melihat talenta muda dengan perspektif yang berbeda.

Generasi muda mungkin belum memiliki pengalaman panjang. Namun, mereka dapat memiliki kemampuan adaptasi, literasi digital, kreativitas, dan keberanian mencoba pendekatan baru.

Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu mengubah potensi tersebut menjadi kompetensi.

Salah satu caranya adalah melalui stretch assignment, yaitu memberikan tugas yang sedikit lebih besar dari kemampuan saat ini tetapi masih berada dalam batas yang dapat didampingi.

Misalnya, seorang staf pemasaran diberikan tanggung jawab mengelola kampanye kecil. Seorang supervisor junior diminta memimpin proyek lintas divisi. Seorang karyawan potensial diberikan kesempatan mempresentasikan hasil pekerjaannya langsung kepada manajemen.

Dari sana perusahaan dapat melihat bagaimana seseorang berpikir, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan bekerja bersama orang lain.

Itulah data yang jauh lebih berguna untuk menentukan calon pemimpin dibanding hanya melihat curriculum vitae.

Jika SDM Tidak Disiapkan, Pertumbuhan Bisnis Bisa Tersendat

Pertumbuhan perusahaan memiliki batas yang ditentukan oleh kapasitas organisasinya.

Bisnis dapat memiliki produk yang bagus. Modal dapat tersedia. Teknologi juga dapat dibeli.

Tetapi jika tidak ada orang yang mampu mengelola perubahan, pertumbuhan justru dapat menciptakan persoalan baru.

Semakin besar perusahaan, semakin kompleks pula pengambilan keputusan.

Karena itu, pemilik UMKM sebaiknya mulai bertanya bukan hanya:

“Bagaimana cara meningkatkan penjualan?”

Tetapi juga:

“Siapa yang akan membawa bisnis ini ke tahap berikutnya?”

Pertanyaan kedua sering kali terlupakan.

Padahal, ketika bisnis mulai berkembang, ketergantungan terhadap pemilik harus perlahan dikurangi. Sistem harus diperkuat dan kepemimpinan harus didistribusikan.

Inilah salah satu alasan mengapa strategi pengembangan SDM perlu berjalan beriringan dengan strategi pertumbuhan bisnis.

Saatnya Membangun Bisnis yang Tidak Bergantung pada Satu Orang

Bagi kami sebagai konsultan bisnis, bisnis yang sehat bukan hanya bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan hari ini.

Bisnis yang sehat juga harus memiliki kemampuan untuk bertahan ketika pemilik tidak lagi terlibat dalam setiap keputusan.

Untuk mencapai kondisi tersebut, perusahaan membutuhkan sistem, proses, struktur organisasi, dan tentu saja manusia yang mampu menjalankannya.

Membangun pemimpin bukan pekerjaan satu malam. Ia dimulai dari proses seleksi, pembinaan, pemberian tanggung jawab, evaluasi, hingga pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.

Dan proses tersebut idealnya dimulai sebelum perusahaan benar-benar membutuhkannya.

Jika Anda sedang menghadapi persoalan seperti bisnis yang terlalu bergantung pada pemilik, struktur organisasi yang belum jelas, karyawan yang belum siap mengambil tanggung jawab lebih besar, atau perusahaan yang ingin melakukan transformasi tetapi belum memiliki SDM yang tepat, MAB Consulting dapat menjadi partner untuk membantu memetakan persoalan tersebut secara lebih terstruktur. (Klik disini).

Sebagai konsultan bisnis, MAB Consulting membantu pemilik usaha melihat bisnis bukan hanya dari sisi operasional, tetapi juga dari sisi strategi, keuangan, organisasi, dan kesiapan SDM untuk mendukung pertumbuhan.

Sebab, transformasi bisnis bukan hanya tentang teknologi baru atau strategi baru.

Transformasi adalah tentang menyiapkan manusia yang mampu menjalankan perubahan tersebut.

Dan semakin cepat bisnis membangun calon pemimpinnya, semakin siap organisasi menghadapi tahap pertumbuhan berikutnya.

 

Baca disini:

Expert Talks with Farnanda Kurniawan Masa Depan Akuntan di Era AI: From Number Keeper To Strategic Business Partner

Bisnis Lagi Rumit? Kenali Cynefin Framework Sebelum Salah Ambil Keputusan

Menteri Keuangan Berganti, Bisnis Harus Apa? Ini Sinyal yang Harus Dibaca Pengusaha