BI Diprediksi Naikkan Bunga Lagi, Ini yang Harus Disiapkan Pengusaha Sebelum 2026 Berakhir
Arah suku bunga selalu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pelaku usaha ketika menyusun strategi keuangan. Bukan hanya karena perubahan suku bunga mempengaruhi biaya pinjaman, tetapi juga karena kebijakan moneter dapat berdampak pada daya beli, arus kas, investasi, hingga keputusan ekspansi bisnis.
Memasuki penghujung tahun 2026, perhatian pelaku usaha kembali teringat pada arah kebijakan Bank Indonesia. Dalam media briefing di Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026), seorang Chief Asia Economist berspekulasi bahwa Bank Indonesia masih akan menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi sebelum siklus pengetatan moneter berakhir.
Prediksi tersebut muncul setelah Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.
Bagi dunia usaha, persoalannya sebenarnya bukan semata-mata apakah suku bunga akan naik atau turun. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perusahaan mempersiapkan diri menghadapi arah perubahan tersebut.
Ketika Kepastian Lebih Penting daripada Level Bunga
Bagi seorang konsultan bisnis, perubahan suku bunga perlu dilihat sebagai bagian dari risiko bisnis, bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi.
Pelaku usaha yang memiliki pinjaman modal kerja, kredit investasi, maupun fasilitas pembiayaan berbunga mengambang tentu akan merasakan dampaknya ketika bunga meningkat. Bahkan kenaikan yang terlihat kecil dapat memberikan tekanan berarti bagi bisnis yang memiliki margin keuntungan tipis.
Oleh karena itu, kepastian arah kebijakan justru menjadi sangat penting.
Jika pelaku usaha memiliki gambaran bahwa siklus kenaikan bunga segera berakhir, perusahaan dapat mulai menyusun proyeksi biaya dengan modal yang lebih terukur. Perencanaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah perusahaan perlu menambah pinjaman, menunda ekspansi, melakukan refinancing, atau memperkuat kas terlebih dahulu.
Pentingnya perusahaan tidak hanya membuat laporan keuangan, tetapi juga melakukan perencanaan keuangan secara berkala.
Angka dalam laporan keuangan seharusnya membantu pemilik bisnis menjawab pertanyaan sederhana: berapa biaya yang harus ditanggung perusahaan jika bunga naik, berapa kemampuan perusahaan membayar cicilan, dan seberapa besar ruang yang masih tersedia untuk pertumbuhan?
Rupiah dan Tantangan bagi Bisnis yang bergantung pada Impor
Orang lain yang tidak kalah penting adalah nilai tukar.
Rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada 29 September. Bagi perusahaan yang menggunakan bahan baku, barang dagangan, mesin, atau jasa dari luar negeri, pergerakan kurs dapat secara langsung mempengaruhi struktur biaya.
Bayangkan sebuah perusahaan yang selama ini menghitung harga jual berdasarkan kurs tertentu. Ketika rupiah melemah, biaya pembelian barang meningkat. Jika kenaikan biaya tersebut tidak segera dipindahkan ke harga jual, margin perusahaan dapat menyusut.
Sebaliknya, menaikkan harga terlalu cepat juga memiliki risiko. Konsumen dapat berpindah ke produk lain atau mengakhiri pembelian.
Oleh karena itu, pengelolaan risiko kurs perlu menjadi bagian dari strategi bisnis, khususnya bagi perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap transaksi dolar.
Proyeksi kurs tidak harus selalu menghasilkan angka yang tepat. Yang lebih penting adalah perusahaan memiliki beberapa skenario.
Misalnya, bagaimana kondisi bisnis jika rupiah berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS? Bagaimana jika rupiah menguat? Bagaimana jika justru melemah?
Dengan simulasi tersebut, manajemen dapat mengetahui titik mana yang paling sensitif terhadap perubahan kurs dan menyiapkan tindakan sebelum masalah muncul.
Pertumbuhan Kredit dan Peluang Pembiayaan
Di tengah kekhawatiran mengenai tingginya suku bunga, terdapat sinyal lain yang perlu diperhatikan pelaku usaha, yakni pertumbuhan kredit perbankan.
Ekonom tersebut menilai pengetatan moneter tidak sampai menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Percepatan penyaluran kredit, termasuk kredit investasi dan kredit modal kerja, menjadi salah satu indikator bahwa pembiayaan aktivitas masih berjalan.
Bagi UMKM, kondisi tersebut memberikan peluang sekaligus tantangan.
Peluangnya adalah akses terhadap pembiayaan masih terbuka. Namun, tantangannya adalah jangan sampai pinjaman yang diperoleh justru menjadi beban karena tidak disertai perencanaan penggunaan dana yang jelas.
Dalam perspektif konsultasi bisnis, pertanyaan sebelum mengambil pinjaman bukan hanya “berapa yang bisa dipinjamkan?”, tetapi “untuk apa dana tersebut digunakan dan berapa besar tambahan keuntungan yang dapat dihasilkan?”
Jika pinjaman digunakan untuk aktivitas produktif yang mampu meningkatkan kapasitas usaha, pembiayaan dapat menjadi instrumen pertumbuhan.
Sebaliknya, jika pinjaman digunakan untuk menutup kebutuhan operasional yang terus mengalami defisit tanpa perbaikan model bisnis, tambahan utang justru dapat menambah permasalahan.
Menjadikan Akhir 2026 sebagai Momentum Evaluasi
Perkiraan satu kali kenaikan suku bunga sebelum siklus pengetatan berakhir seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kabar yang kurang menyenangkan.
Justru, kondisi ini dapat menjadi momentum bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi sebelum memasuki tahun 2027.
Pertama, perusahaan perlu memeriksa seluruh kewajiban pembiayaan yang dimiliki. Pisahkan pinjaman dengan bunga tetap dan bunga mengambang. Hitung kembali dampak kenaikan bunga terhadap cicilan dan arus kas.
Kedua, lakukan stress test sederhana terhadap bisnis. Bagaimana kondisi arus kas jika biaya pinjaman meningkat? Bagaimana jika penjualan turun 10 persen? Bagaimana jika biaya bahan baku meningkat akibat pelemahan rupiah?
Ketiga, periksa kembali kebutuhan modal kerja. Jangan menunggu kas mulai menipis untuk berbicara dengan perbankan. Perusahaan yang memiliki proyeksi keuangan yang jelas biasanya mempunyai posisi yang lebih baik ketika melakukan negosiasi pembiayaan.
Keempat, bagi bisnis yang bergantung pada impor, menghitung secara lebih detail eksposur kurs. Tidak semua biaya perusahaan harus memiliki tingkat risiko yang sama. Dengan mengetahui komponen biaya yang paling sensitif terhadap dolar, manajemen dapat menentukan strategi harga, kontrak pemasok, serta pola pembayaran yang lebih tepat.
Bisnis yang Siap Tidak Hanya Menunggu Kondisi Ekonomi
Pada akhirnya, perubahan suku bunga dan nilai tukar merupakan bagian dari lingkungan bisnis yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Namun, respon perusahaan terhadap perubahan tersebut dapat dikendalikan.
Bisnis yang hanya menunggu kepastian ekonomi akan selalu berada dalam posisi reaktif. Sebaliknya, bisnis yang memiliki proyeksi keuangan, skenario risiko, pengelolaan arus kas, serta pembiayaan strategis akan memiliki ruang lebih besar untuk mengambil keputusan.
Akhir siklus pengetatan moneter juga dapat menjadi kesempatan untuk mulai memikirkan kembali strategi 2027. Apakah perusahaan perlu menambah modal kerja? Apakah ekspansi masih layak dilakukan? Apakah struktur utang sudah sehat? Apakah harga jual masih memberikan margin yang cukup? Dan yang paling penting, apakah arus kas perusahaan cukup kuat menghadapi skenario ekonomi yang berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan melihat saldo rekening atau laporan laba rugi. Diperlukan analisis yang menghubungkan kondisi keuangan dengan strategi bisnis secara menyeluruh.
Oleh karena itu, bagi pemilik usaha yang ingin memasuki tahun 2027 dengan perencanaan yang lebih matang, pendampingan konsultan bisnis dapat menjadi langkah strategis. MAB Consulting hadir sebagai salah satu pilihan konsultan bisnis terbaik di Jawa Timur, khususnya Surabaya, untuk membantu perusahaan membaca kondisi bisnis, menyusun strategi pertumbuhan, memperkuat perencanaan keuangan, serta mengambil keputusan berdasarkan data dan analisis yang lebih terukur.
Dengan pendekatan konsultasi yang berfokus pada pertumbuhan, MAB Consulting melalui tagline “In Growth We Trust, Together We Rise” dapat menjadi partner bagi bisnis yang tidak hanya ingin bertahan menghadapi perubahan ekonomi, tetapi juga ingin menemukan peluang pertumbuhan di tengah-tengah. ( Klik disini )
Baca di sini:
Bisnis Sudah Siap Naik Kelas, Mengapa SDM Justru Jadi Penghambat
Bisnis Lagi Rumit Kenali Cynefin Framework Sebelum Salah Ambil Keputusan