Blog

Bisnis Lagi Rumit? Kenali Cynefin Framework Sebelum Salah Ambil Keputusan

Sebagai konsultan bisnis, saya justru melihat pertanyaan tersebut perlu didahului dengan pertanyaan yang lebih mendasar: “Masalah seperti apa yang sedang kita hadapi?”

Sebab, tidak semua masalah bisnis harus diselesaikan dengan cara yang sama.

Keputusan yang tepat dalam situasi sederhana bisa menjadi keputusan yang keliru ketika diterapkan pada kondisi yang kompleks. Di bawah ini Cynefin Framework menjadi relevan bagi pemilik bisnis dan manajemen.

Kerangka kerja yang diperkenalkan oleh Dave Snowden ini membantu pemimpin memahami konteks suatu persoalan sebelum menentukan pendekatan untuk mengambil keputusan. Dengan memahami konteksnya, perusahaan tidak hanya bertindak cepat, tetapi juga mampu memilih tindakan yang sesuai dengan karakter masalahnya.

Mengapa Banyak Keputusan Bisnis Berakhir Keliru?

Salah satu kesalahan yang cukup sering saya temui ketika mendampingi pengusaha adalah kecenderungan menggunakan pengalaman masa lalu untuk menyelesaikan semua masalah.

Misalnya, sebuah strategi promosi pernah berhasil meningkatkan penjualan secara signifikan. Ketika penjualan kembali turun, strategi yang sama langsung dijalankan dengan harapan hasilnya akan kembali seperti sebelumnya.

Masalahnya, kondisi pasar mungkin sudah berubah.

Perilaku konsumen berubah, pesaing bertambah, teknologi berkembang, daya beli berubah, bahkan cara pelanggan mengambil keputusan pembelian bisa berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Artinya, masalah yang sama-sama terlihat sebagai “penjualan turun” belum tentu memiliki penyebab dan solusi yang sama.

Inilah alasan mengapa pengusaha perlu membedakan jenis permasalahan sebelum mengambil keputusan.

Mengidentifikasi Kerangka Kerja Cynefin

Cynefin Framework membagi situasi pengambilan keputusan ke dalam beberapa domain. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

Secara umum, terdapat empat domain utama yang perlu dipahami pelaku bisnis, yaitu Jelas, Rumit, Kompleks, dan Chaotic. Di tengahnya terdapat kondisi Disorder, ketika seseorang belum mengetahui sebenarnya masalah yang dihadapi berada di domain mana.

Mari kita lihat bagaimana framework ini dapat digunakan dalam bisnis.

  1. Clear : Masalah yang Sudah Memiliki Pola Jelas

Pada kondisi Jelas, hubungan antara sebab dan akibat relatif mudah dipahami. Ada prosedur, standar, atau praktik terbaik yang sudah diketahui.

Contohnya, perusahaan mengalami keterlambatan pengiriman karena prosedur administrasi yang belum dijalankan sesuai standar.

Solusinya relatif jelas: prosedur identifikasi yang tidak berjalan, perbaiki proses, kemudian pastikan standar tersebut diterapkan secara konsisten.

Dalam kondisi seperti ini, bisnis tidak perlu melakukan eksperimen besar-besaran. Yang dibutuhkan adalah praktik terbaik, prosedur operasi standar, dan disiplin eksekusi.

Kesalahan yang sering terjadi justru ketika persoalan sederhana dibuat terlalu rumit.

Pengusaha mengadakan terlalu banyak rapat, membuat analisis panjang, tetapi tidak segera memperbaiki proses yang sebenarnya sudah diketahui.

  1. Rumit: Masalah yang Membutuhkan Keahlian

Berbeda dengan Clear, masalah Comtricked memiliki hubungan sebab-akibat yang sebenarnya ada, tetapi tidak selalu dapat dipahami secara langsung.

Misalnya, perusahaan mengalami penurunan margin keuntungan. Penyebabnya bisa berasal dari harga bahan baku, struktur biaya, strategi harga, produktivitas tenaga kerja, hingga efisiensi operasional.

Masalah seperti ini memerlukan analisis dan keahlian.

Di bidang konsultan bisnis, akuntan, analis keuangan, ahli pemasaran, atau profesional di bidang tertentu dapat memberikan perspektif yang lebih objektif.

Pendekatannya bukan sekadar “coba saja”, melainkan analisis terlebih dahulu, kemudian menentukan respons berdasarkan keahlian dan data.

Bagi pemilik bisnis, membedakan masalah Rumit dari masalah Jelas sangat penting. Jangan menyelesaikan persoalan yang membutuhkan analisis mendalam hanya dengan mengandalkan intuisi.

  1. Kompleks: Masalah yang Tidak Bisa Diprediksi dengan Mudah

Inilah wilayah yang sering membuat kesulitan bisnis.

Dalam kondisi yang kompleks, hubungan sebab-akibat baru dapat dipahami setelah berbagai tindakan dilakukan. Tidak ada satu formula yang dapat menjamin hasil tertentu.

Contohnya adalah ketika sebuah perusahaan ingin memasuki pasar baru.

Di atas kertas, produknya bagus. Riset pasar menunjukkan adanya peluang. Namun ketika produk diluncurkan, respons konsumen ternyata berbeda dari perkiraan.

Apa yang harus dilakukan?

Dalam situasi seperti ini, perusahaan perlu melakukan eksperimen, mengamati respons, belajar, kemudian menyesuaikan strategi.

Bukan berarti bisnis harus mengambil keputusan secara asal. Justru sebaliknya, eksperimen harus dilakukan secara terukur.

Misalnya dengan meluncurkan produk dalam skala kecil, menguji beberapa strategi harga, mengamati perilaku pelanggan, kemudian menggunakan hasil untuk menentukan langkah berikutnya.

Prinsip sederhananya adalah: probe, sense, respond.

Coba dalam skala yang terkendali, lihat apa yang terjadi, kemudian respon berdasarkan pembelajaran.

Bagi kami, ini menjadi salah satu bagian terpenting dari Cynefin Framework. Sebab setelah banyak pengusaha ingin mendapatkan kepastian terlebih dahulu sebelum pindah, padahal dalam situasi kompleks, kepastian justru sering muncul perusahaan mulai bergerak dan belajar.

  1. Chaotic: Ketika Bisnis Harus Bertindak Cepat

Situasi Chaotic berbeda lagi.

Dalam kondisi ini, perusahaan menghadapi situasi yang memerlukan tindakan segera. Prioritas utamanya adalah menstabilkan keadaan terlebih dahulu.

Contohnya, terjadi krisis reputasi yang menyebar dengan cepat di media sosial, gangguan besar terhadap operasional, atau kondisi lain yang membuat perusahaan kehilangan kendali atas situasi.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama untuk membuat analisis sempurna.

Tindakan awal harus diarahkan untuk mengurangi dampak, mengembalikan stabilitas, kemudian setelah kondisi lebih terkendali barulah dilakukan analisis yang lebih mendalam.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menangani kondisi krisis seperti masalah rutin. Akibatnya, organisasi terlalu lambat mengambil tindakan ketika kecepatan justru menjadi kebutuhan utama.

Jadi, Apa Manfaat Cynefin Framework bagi Pengusaha?

Cynefin Framework bukan alat untuk memberikan jawaban otomatis atas setiap permasalahan bisnis. Nilai utamanya justru terletak pada kemampuannya membantu pemimpin memilih cara berpikir sebelum memilih tindakan.

Ketika penjualan turun, misalnya, jangan langsung memutuskan untuk memberikan diskon.

Tanyakan terlebih dahulu: apakah masalahnya karena proses penjualan? Harga? Perubahan perilaku konsumen? Produk yang mulai kehilangan relevansinya? Pesaing? Atau kombinasi berbagai faktor?

Jika masalahnya Clear, perbaiki proses.

Jika Rumit, lakukan analisis dan libatkan ahli.

Jika Complex, lakukan eksperimen terukur dan belajar dari respon pasar.

Jika Chaotic, stabilkan kondisi terlebih dahulu.

Dengan pola pikir tersebut, keputusan bisnis menjadi lebih kontekstual.

Jangan Hanya Bertanya “Apa Solusinya?”

Salah satu perubahan pola pikir yang penting bagi pemilik bisnis adalah berhenti mencari solusi sebelum memahami masalah.

Dalam praktik konsultasi bisnis, kami sering melihat perusahaan memiliki banyak program, namun tidak semuanya menjawab akar masalah.

Ada perusahaan yang terus meningkatkan anggaran pemasaran ketika masalah sebenarnya berada pada kualitas produk. Ada pula bisnis yang mengganti karyawan ketika masalah sebenarnya berasal dari sistem kerja yang tidak jelas.

Artinya, keputusan yang terlihat aktif belum tentu merupakan keputusan yang efektif.

Cynefin Framework mengajarkan bahwa konteks menentukan pendekatan. Tidak ada satu gaya pengambilan keputusan yang cocok untuk semua kondisi bisnis.

Karena, kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan bertindak, tetapi juga oleh kemampuan manajemen dalam membaca situasi dengan tepat.

Saatnya Pengusaha Mengubah Cara Mengambil Keputusan

Bisnis yang semakin besar akan menghadapi persoalan yang semakin beragam. Oleh karena itu, pemilik bisnis tidak cukup hanya memiliki keberanian dalam mengambil keputusan.

Diperlukan kemampuan untuk memahami konteks, membaca data, mengenali pola, menguji asumsi, dan mengetahui kapan harus menggunakan pengalaman, kapan membutuhkan keahlian, serta kapan harus melakukan eksperimen.

Cynefin Framework dapat menjadi salah satu kerangka berpikir untuk membantu proses tersebut.

Bukan untuk membuat keputusan menjadi rumit, tetapi justru agar perusahaan tidak menggunakan cara yang salah untuk menghadapi masalah yang berbeda.

Karena dalam bisnis, terkadang masalah terletak pada kurangnya solusi.

Masalahnya adalah kita menggunakan solusi yang tepat untuk konteks yang salah.

Jika Anda sedang menghadapi permasalahan bisnis yang semakin kompleks, mulai dari strategi pertumbuhan, keuangan, operasional, pemasaran hingga pengembangan organisasi, pendampingan dari pihak eksternal dapat membantu melihat permasalahan dengan perspektif yang lebih objektif.

MAB Consulting dapat menjadi salah satu pilihan konsultan bisnis di Jawa Timur, khususnya Surabaya, untuk membantu pemilik dan manajemen bisnis menganalisis permasalahan, menyusun strategi, serta mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata perusahaan. Dengan pendekatan konsultasi yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, MAB Consulting dapat menjadi partner bagi pengusaha yang ingin membangun bisnis secara lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan. (Hubungi: Klik disini )

 

Baca juga:

Menteri Keuangan Berganti Bisnis Harus Apa? Ini Sinyal yang Wajib Dibaca Pengusaha

Jangan Tunggu Krisis! 5 Strategi Menjaga Bisnis Tetap Berjalan Saat Perjalanan Dinas Terganggu

Mengapa Pemimpin yang Pandai Mengambil Keputusan Bisa Gagal Menghadapi Perubahan?