Blog

Jangan Asal Kecilkan Produk! Ini Risiko Shrinkflation yang Sering Diabaikan Pebisnis

Di tengah tekanan ekonomi yang semakin kompleks, banyak pelaku usaha menghadapi dilema yang tidak mudah. Di satu sisi, harga bahan baku terus meningkat akibat inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga kenaikan biaya energi dan distribusi. Di sisi lain, menaikkan harga jual secara langsung berisiko menurunkan permintaan karena konsumen semakin sensitif terhadap perubahan harga.

Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit perusahaan yang memilih strategi shrinkflation, yaitu mengurangi ukuran, berat, atau volume produk tanpa mengubah harga jualnya. Strategi tersebut dinilai mampu menjaga harga tetap berada pada titik psikologis yang sudah dikenal konsumen, sekaligus mempertahankan margin keuntungan perusahaan.

Namun, dari perspektif kami, shrinkflation bukan sekadar keputusan pemasaran. Strategi ini merupakan sinyal bahwa perusahaan sedang menghadapi tekanan biaya yang cukup serius. Apabila diterapkan tanpa perencanaan yang matang, shrinkflation justru berpotensi menurunkan kepercayaan pelanggan dan melemahkan daya saing bisnis dalam jangka panjang.

Shrinkflation Bukan Sekadar Mengurangi Isi Produk

Istilah shrinkflation berasal dari gabungan kata shrink (menyusut) dan inflation (inflasi). Secara sederhana, perusahaan tetap mempertahankan harga produk, tetapi mengurangi jumlah isi di dalam kemasan. Akibatnya, konsumen membayar nominal yang sama untuk kuantitas produk yang lebih sedikit.

Dari sudut pandang ekonomi, praktik ini sesungguhnya merupakan bentuk kenaikan harga secara tidak langsung. Harga pada label memang tidak berubah, tetapi harga per gram, per liter, atau per satuan produk meningkat. Karena perubahan tersebut sering kali tidak disadari konsumen, shrinkflation kerap disebut sebagai “inflasi tersembunyi”.

Fenomena ini semakin sering ditemukan pada berbagai kategori produk, mulai dari makanan ringan, minuman kemasan, deterjen, sabun, tisu, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Sebuah penelitian yang dilakukan Aljoscha dan Johannes Kasinger pada Oktober 2025 bahkan menunjukkan bahwa sekitar 1,92 persen produk mengalami penyusutan ukuran, sementara frekuensi pengurangan ukuran lima kali lebih tinggi dibandingkan penambahan ukuran produk.

Data tersebut menunjukkan bahwa banyak perusahaan di berbagai negara mulai menganggap shrinkflation sebagai strategi yang relatif aman dibandingkan menaikkan harga secara terbuka.

Mengapa Banyak Perusahaan Memilih Shrinkflation?

Kami melihat bahwa keputusan melakukan shrinkflation umumnya bukan didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan yang lebih besar semata. Sebaliknya, keputusan tersebut sering kali merupakan respons terhadap tekanan biaya yang datang dari berbagai arah.

Pada 2026 misalnya, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp17.613 per dolar Amerika Serikat membuat harga bahan baku impor meningkat tajam. Industri makanan, minuman, kosmetik, hingga manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku luar negeri merasakan dampaknya secara langsung.

Di saat bersamaan, inflasi tahunan Indonesia yang mencapai 3,34 persen pada Juni 2026 turut meningkatkan biaya produksi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar sehingga produsen harus menanggung kenaikan biaya yang terus berlangsung.

Tekanan juga datang dari sektor energi dan pengemasan. Kenaikan harga LPG nonsubsidi ukuran 12 kilogram maupun 5,5 kilogram berdampak pada meningkatnya biaya operasional, khususnya bagi pelaku UMKM makanan dan minuman. Di sisi lain, harga plastik kemasan ikut naik akibat terganggunya pasokan bahan baku global, bahkan pada beberapa industri biaya kemasan dapat mencapai 10–15 persen dari total harga jual produk.

Apabila seluruh kenaikan biaya tersebut langsung dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga, risiko kehilangan pelanggan menjadi sangat besar. Oleh karena itu, banyak perusahaan memilih mengecilkan ukuran produk sambil mempertahankan harga jual agar tetap kompetitif.

Masalahnya, Konsumen Kini Semakin Cerdas

Strategi shrinkflation mungkin berhasil dalam jangka pendek, tetapi efektivitasnya semakin menurun seiring meningkatnya literasi konsumen.

Saat ini masyarakat tidak hanya membandingkan harga antarproduk, tetapi juga mulai memperhatikan berat bersih, volume, jumlah isi, hingga harga per gram atau per liter. Media sosial bahkan mempercepat penyebaran informasi ketika konsumen menemukan adanya perubahan ukuran produk yang dianggap tidak transparan.

Ketika pelanggan merasa perusahaan sengaja menyembunyikan kenaikan harga melalui pengurangan isi produk, dampaknya bukan hanya penurunan penjualan sesaat. Yang lebih berbahaya adalah hilangnya kepercayaan terhadap merek.

Dalam dunia bisnis modern, kepercayaan merupakan aset yang jauh lebih mahal dibandingkan keuntungan jangka pendek. Sekali konsumen kehilangan kepercayaan, perusahaan harus mengeluarkan biaya pemasaran yang jauh lebih besar untuk membangun kembali citra mereknya.

Karena itu, shrinkflation seharusnya dipandang sebagai pilihan terakhir, bukan strategi utama dalam menghadapi kenaikan biaya produksi. Perusahaan yang hanya berfokus mempertahankan margin tanpa memperhatikan persepsi pelanggan berisiko kehilangan loyalitas pasar dalam jangka panjang.

Strategi Bisnis yang Lebih Berkelanjutan daripada Shrinkflation

Dari pengalaman kami mendampingi berbagai perusahaan, shrinkflation sebenarnya hanya menyelesaikan sebagian kecil dari persoalan. Tantangan utama bukan terletak pada bagaimana mempertahankan harga produk, melainkan bagaimana membangun struktur biaya yang lebih efisien sehingga perusahaan tetap memperoleh keuntungan tanpa harus mengorbankan nilai yang diterima pelanggan.

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur biaya operasional. Banyak perusahaan masih memiliki pemborosan yang tidak disadari, mulai dari proses produksi yang kurang efisien, pengelolaan persediaan yang tidak optimal, hingga biaya distribusi yang terus membengkak. Audit operasional sering kali mampu menemukan peluang penghematan yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengurangi isi produk.

Selanjutnya, perusahaan perlu memperkuat manajemen rantai pasok (supply chain). Ketergantungan terhadap satu pemasok atau bahan baku impor membuat bisnis sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan gangguan distribusi global. Diversifikasi pemasok, peningkatan penggunaan bahan baku lokal yang berkualitas, serta negosiasi kontrak jangka panjang dapat membantu menekan risiko kenaikan biaya di masa mendatang.

Transformasi digital juga menjadi strategi yang tidak boleh diabaikan. Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan stok, pencatatan keuangan, analisis penjualan, hingga otomatisasi proses bisnis mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memberikan data yang lebih akurat untuk pengambilan keputusan. Di era persaingan yang semakin ketat, perusahaan yang mampu memanfaatkan data secara optimal akan memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan mereka yang masih mengandalkan intuisi semata.

Selain itu, perusahaan perlu meninjau kembali strategi penetapan harga (pricing strategy). Tidak semua produk harus dipertahankan pada titik harga yang sama. Dalam beberapa kasus, konsumen justru lebih menerima kenaikan harga yang disampaikan secara transparan dibandingkan pengurangan ukuran produk yang baru disadari setelah pembelian. Komunikasi yang jujur mengenai alasan kenaikan harga dapat memperkuat hubungan antara perusahaan dan pelanggan, terutama jika kualitas produk tetap terjaga.

Pemilik Bisnis Perlu Berpikir Lebih Strategis

Shrinkflation memberikan pelajaran penting bahwa perubahan kondisi ekonomi menuntut perusahaan untuk lebih adaptif. Namun, adaptif bukan berarti mengambil keputusan jangka pendek yang berpotensi mengurangi kepercayaan pasar.

Pemilik bisnis perlu melihat setiap kenaikan biaya sebagai momentum untuk mengevaluasi model bisnis secara keseluruhan. Apakah produk yang ditawarkan masih memiliki proposisi nilai yang kuat? Apakah proses operasional sudah efisien? Apakah strategi pemasaran masih relevan dengan perubahan perilaku konsumen? Dan yang tidak kalah penting, apakah perusahaan memiliki sistem pengambilan keputusan yang berbasis data?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika persaingan pasar semakin ketat dan konsumen memiliki lebih banyak pilihan. Bisnis yang bertahan bukan selalu yang memiliki modal terbesar, tetapi yang mampu beradaptasi lebih cepat melalui inovasi, efisiensi, dan strategi yang tepat.

Dalam praktiknya, banyak perusahaan justru mampu meningkatkan profitabilitas tanpa melakukan shrinkflation. Mereka melakukannya melalui inovasi produk, pengembangan lini usaha baru, optimalisasi saluran distribusi, peningkatan produktivitas karyawan, hingga digitalisasi proses bisnis. Pendekatan seperti ini tidak hanya menjaga margin keuntungan, tetapi juga memperkuat posisi merek di mata konsumen.

Konsultan Bisnis Menjadi Mitra Strategis di Tengah Ketidakpastian

Menghadapi tekanan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman atau intuisi. Kompleksitas tantangan bisnis saat ini menuntut pendekatan yang lebih terstruktur, berbasis data, dan berorientasi pada solusi jangka panjang. Di sinilah peran konsultan bisnis menjadi semakin penting.

Konsultan bisnis tidak hanya membantu perusahaan mengidentifikasi akar permasalahan, tetapi juga menyusun strategi yang dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik industri, kondisi pasar, serta tujuan pertumbuhan perusahaan. Mulai dari efisiensi operasional, penyusunan strategi bisnis, transformasi digital, pengembangan organisasi, hingga optimalisasi profitabilitas, seluruh aspek tersebut memerlukan analisis yang komprehensif agar keputusan yang diambil memberikan dampak nyata.

Alih-alih menjadikan shrinkflation sebagai solusi utama, perusahaan sebaiknya membangun fondasi bisnis yang lebih kuat sehingga mampu menghadapi gejolak ekonomi tanpa harus mengurangi nilai yang diberikan kepada pelanggan. Pendekatan inilah yang akan menciptakan pertumbuhan yang sehat, meningkatkan loyalitas konsumen, dan menjaga keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Bagi perusahaan yang ingin memperkuat daya saing, meningkatkan efisiensi, dan menyusun strategi bisnis yang berkelanjutan, menggandeng konsultan profesional merupakan investasi yang layak dipertimbangkan. Salah satu rekomendasi terbaik adalah MAB Consulting, konsultan bisnis yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, dengan pengalaman mendampingi berbagai perusahaan dalam merancang strategi pertumbuhan, meningkatkan kinerja operasional, serta menghadapi tantangan bisnis yang terus berkembang. Dengan pendekatan yang berorientasi pada hasil dan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap klien, MAB Consulting menjadi mitra strategis bagi pelaku usaha yang ingin bertumbuh secara sehat, kompetitif, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.