Blog

90% UMKM Melewatkan Peluang Ini, Padahal Omzet Bisa Naik Saat Hari Jadi Kota

Banyak pelaku UMKM di Indonesia masih melihat hari jadi kota sebagai agenda pemerintah yang identik dengan upacara, festival budaya, pawai, atau hiburan masyarakat. Mereka baru mulai berpikir untuk berjualan ketika keramaian sudah terjadi. Padahal, dari perspektif bisnis, cara pandang seperti itu membuat mereka kehilangan peluang yang sebenarnya sudah dapat diprediksi jauh-jauh hari.

Dalam dunia usaha, keuntungan sering kali bukan diperoleh oleh mereka yang memiliki modal paling besar, melainkan oleh mereka yang mampu membaca pola permintaan lebih cepat dibanding kompetitor. Hari jadi kota merupakan salah satu pola tersebut. Jadwalnya sudah diketahui setiap tahun, aktivitas masyarakat meningkat secara signifikan, mobilitas wisatawan bertambah, dan konsumsi lokal ikut terdorong. Dengan kata lain, ini adalah momentum ekonomi yang dapat direncanakan, bukan sekadar keberuntungan yang datang tiba-tiba.

Sebagai konsultan bisnis, saya sering menemukan bahwa banyak UMKM terlalu fokus mengejar penjualan harian tanpa memiliki kalender bisnis tahunan. Akibatnya, mereka selalu bereaksi terhadap pasar, bukan mempersiapkan diri sebelum pasar bergerak. Pola pikir seperti inilah yang membuat banyak usaha sulit berkembang.

Padahal, perusahaan-perusahaan besar telah lama menggunakan pendekatan berbeda. Mereka menyusun kalender pemasaran berdasarkan momentum-momentum yang diperkirakan akan meningkatkan konsumsi masyarakat, mulai dari Ramadan, libur sekolah, Natal dan Tahun Baru, hingga berbagai agenda daerah. Mereka memahami bahwa perilaku konsumen berubah mengikuti momentum. Karena itu, strategi bisnis juga harus berubah mengikuti siklus tersebut.

Hari jadi kota seharusnya diposisikan dalam kategori yang sama.

Bogor menjadi contoh yang menarik untuk dipelajari. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, sepanjang Januari hingga November 2025 terdapat sekitar 193,24 juta perjalanan wisatawan nusantara ke berbagai daerah di Jawa Barat. Kabupaten Bogor mencatat proporsi kunjungan tertinggi, yaitu sekitar 14,98 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa Bogor bukan hanya memiliki penduduk lokal sebagai pasar, tetapi juga didukung arus wisatawan yang sangat besar.

Ketika Hari Jadi Bogor ke-544 diperingati pada Juni 2026, sesungguhnya bukan hanya pemerintah yang memiliki kepentingan agar acara berlangsung sukses. Dunia usaha juga memiliki kepentingan ekonomi yang sama besar. Setiap tambahan wisatawan berarti peluang transaksi baru. Setiap festival berarti bertambahnya lalu lintas konsumen. Setiap kegiatan publik berarti meningkatnya potensi belanja masyarakat.

Sayangnya, sebagian besar UMKM masih memanfaatkan momentum tersebut secara spontan. Mereka membuka stan ketika acara dimulai, menawarkan produk yang sama seperti hari biasa, kemudian berharap penjualan meningkat karena ramainya pengunjung. Pendekatan seperti ini memang bisa menghasilkan transaksi, tetapi nilainya jauh dari optimal.

Dalam praktik sesi konsultasi dengan mitra, kami selalu menekankan bahwa momentum bukan diciptakan saat acara berlangsung, melainkan beberapa minggu sebelumnya.

Idealnya, persiapan dimulai enam hingga delapan minggu sebelum hari pelaksanaan. Pada tahap awal, pelaku usaha harus menentukan tujuan yang ingin dicapai. Apakah ingin meningkatkan omzet jangka pendek, memperoleh pelanggan baru, memperkenalkan produk baru, atau memperkuat citra merek? Tujuan yang jelas akan menentukan strategi yang digunakan.

Langkah berikutnya adalah menyesuaikan produk dengan tema momentum. Konsumen pada masa perayaan cenderung mencari sesuatu yang berbeda dari hari-hari biasa. Mereka lebih tertarik membeli produk edisi khusus, kemasan bertema lokal, atau merchandise yang memiliki nilai emosional. Penyesuaian sederhana pada desain kemasan sering kali memberikan dampak yang jauh lebih besar dibanding sekadar memberikan potongan harga.

Kesalahan lain yang sering dilakukan UMKM adalah terlalu fokus bersaing pada harga. Ketika semua pelaku usaha menawarkan diskon, keuntungan justru semakin menipis. Yang lebih penting adalah menciptakan nilai tambah.

Misalnya, restoran dapat menghadirkan menu khas daerah dalam periode terbatas. Produsen makanan dapat meluncurkan paket oleh-oleh bertema Hari Jadi Kota. Pelaku fesyen bisa membuat desain edisi spesial yang hanya dijual selama perayaan berlangsung. Sementara pelaku kerajinan dapat menawarkan produk yang mengangkat identitas budaya lokal. Konsumen tidak selalu membeli karena harga murah. Mereka membeli karena produk memiliki cerita yang relevan dengan momentum.

Di sisi lain, pemasaran digital juga harus mulai dilakukan jauh sebelum acara berlangsung. Banyak UMKM baru mengunggah promosi ketika festival sudah dimulai. Padahal, keputusan pembelian sering kali dibuat beberapa hari sebelumnya. Membangun antusiasme melalui media sosial, memberikan teaser produk, membuka pre-order, hingga berkolaborasi dengan kreator konten lokal merupakan strategi yang jauh lebih efektif dibanding sekadar mengandalkan keramaian di lokasi acara.

Peluang yang menurut saya masih sangat kurang dimanfaatkan adalah kolaborasi.

Banyak pelaku usaha menganggap kompetitor sebagai ancaman, padahal dalam momentum seperti hari jadi kota, justru kolaborasi menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar. Hotel, pusat perbelanjaan, kafe, ruang publik, hingga penyelenggara acara membutuhkan produk lokal untuk memperkaya pengalaman pengunjung.

Kementerian Pariwisata sendiri terus mendorong keterlibatan UMKM dan pelaku ekonomi kreatif sebagai bagian dari ekosistem destinasi wisata melalui berbagai program kurasi produk dan co-branding. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak lagi melihat UMKM sebagai pelengkap acara, melainkan sebagai bagian penting dalam rantai ekonomi pariwisata.

Bagi UMKM, ini adalah kesempatan untuk naik kelas.

Daripada hanya menunggu pengunjung datang ke kios, pelaku usaha dapat mulai menawarkan kerja sama kepada hotel, operator wisata, penyelenggara festival, atau pusat perbelanjaan. Produk yang dipajang di lobi hotel, dijadikan suvenir resmi acara, atau masuk dalam paket wisata memiliki peluang menjangkau konsumen dengan daya beli lebih tinggi.

Yang sering saya tekankan kepada para pelaku usaha adalah bahwa kolaborasi tidak dimulai dengan meminta kesempatan, tetapi dengan menunjukkan solusi. Ketika mengajukan kerja sama kepada hotel, misalnya, jangan hanya mengatakan ingin menitipkan produk. Tunjukkan bagaimana produk tersebut dapat meningkatkan pengalaman tamu, memperkuat citra lokal hotel, atau menambah nilai layanan yang diberikan kepada pengunjung.

Pendekatan seperti ini jauh lebih profesional dan memiliki peluang lebih besar untuk diterima.

Ada satu hal lain yang sering dilupakan UMKM setelah sebuah acara selesai, yaitu evaluasi.

Sebagian besar hanya menghitung omzet yang diperoleh, kemudian kembali menjalankan bisnis seperti biasa. Padahal, nilai terbesar dari momentum seperti hari jadi kota bukan hanya penjualan satu hari, melainkan data yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.

Siapa pelanggan yang membeli? Produk mana yang paling diminati? Jam berapa transaksi paling tinggi? Promosi apa yang paling efektif? Berapa banyak pelanggan baru yang mengikuti media sosial atau kembali membeli setelah acara berakhir?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berharga dibanding sekadar mengetahui total pendapatan selama festival.

Pada akhirnya, kami selalu meyakini bahwa bisnis yang bertumbuh bukanlah bisnis yang paling rajin bekerja, melainkan bisnis yang paling baik mempersiapkan diri menghadapi peluang. Hari jadi kota adalah peluang yang datang secara rutin setiap tahun. Kalendernya sudah tersedia, perilaku konsumennya dapat dipelajari, dan lonjakan permintaannya dapat diprediksi.

Karena itu, sudah saatnya UMKM mengubah cara pandang. Jangan lagi melihat hari jadi kota hanya sebagai keramaian yang sesekali mendatangkan pembeli. Lihatlah sebagai bagian dari kalender strategi bisnis tahunan. Rencanakan sejak jauh hari, bangun kolaborasi, siapkan inovasi produk, manfaatkan pemasaran digital, dan jadikan setiap momentum daerah sebagai investasi untuk memperluas pasar.

Pada akhirnya, pertumbuhan usaha bukan ditentukan oleh seberapa ramai sebuah perayaan berlangsung, tetapi oleh seberapa siap pelaku usaha memanfaatkan momentum tersebut. Mereka yang mampu membaca peluang sebelum orang lain akan selalu memiliki keunggulan kompetitif. Dan dalam dunia bisnis, keunggulan itulah yang membedakan usaha yang sekadar bertahan dengan usaha yang terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

Bagi pelaku usaha yang ingin memanfaatkan momentum-momentum ekonomi seperti hari jadi kota, festival daerah, maupun agenda pariwisata tahunan secara lebih terstruktur, pendampingan dari konsultan bisnis dapat menjadi investasi yang memberikan dampak jangka panjang. Konsultan yang tepat tidak hanya membantu menyusun strategi pemasaran, tetapi juga membangun sistem bisnis, memperkuat branding, mengembangkan model kolaborasi, hingga menyusun rencana pertumbuhan yang berkelanjutan.

Di Jawa Timur, khususnya Surabaya, MAB Consulting merupakan salah satu konsultan bisnis yang layak dipertimbangkan bagi UMKM maupun perusahaan yang ingin meningkatkan daya saing. Dengan pendekatan yang berorientasi pada hasil, MAB Consulting membantu pelaku usaha mengidentifikasi peluang pasar, menyusun strategi bisnis yang terukur, serta mengoptimalkan potensi pertumbuhan melalui pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing klien. Di tengah persaingan usaha yang semakin dinamis, memiliki mitra strategis seperti MAB Consulting dapat menjadi pembeda antara bisnis yang hanya mampu bertahan dengan bisnis yang tumbuh secara berkelanjutan.